Mencintaimu

Portofolio

Mencintaimu, adalah pelajaran baru. Terus belajar tanpa menyerah ataupun pasrah.

Mecintaimu, adalah bahagia. Terus bahagia untuk membahagiakanmu. 

Mecintaimu, adalah pekerjaanku. Terus bekerja karena cinta membawa pada pengabdianku yang lainnya. 

Mecintaimu karena Allah. Terus untuk mencintai Allah terlebih dahulu. 

Kamu, teman baruku. Teman hidupku. Jazaakallahu khayra, telah memberikanku buku baru, untuk menulis lembaran baru.  

Advertisements

Haha

Portofolio

Bahkan… Ketika tarikan napas panjang pun tak membuatmu lega. 
Hahaha. 

Juga tawa tak lagi sama. 

Buatlah Jarak tapi Jangan Beranjak

Portofolio

Yang aku takutkan adalah terluka, dan entah mengapa air mata ini selalu ada.

Aku hanya tak ingin tangisku yang dulu, ibarat raungan hati lebih berisik dan terasa berat dibanding getaran pita suara.

Aku selalu takut pada tangisku kelak. Tapi… Aku senang karena kebanyakan tidurku setelahnya membuat lupa, meski kadang masih tersisa rasa.

Aku takut, tapi aku ingin punya hati yang kuat. Menjadi terbiasa jika penyebab tangis itu tiba.

Inginku, kau tak pergi selangkahpun nanti. Meski ada amarah dan ada tangis di atap kita. Setidaknya ku tahu, bahwa kau baik-baik saja.  Inginku, kita hanya duduk berjarak di sudut-sudut ruangan. Sampai waktu mengembalikan cinta dan sayang, menyatukan kembali jarak dan lubang yang sempat kita buat.

Bagiku mimpi buruk adalah tangisku yang lalu, sia-sia menghabiskan waktu entah karena sakit berkeping atau merindu.

Aku tak ingin tangisku kelak semudah tersenyum.

Aku tak ingin sakitku kelak menjauhkanmu.

Aku tak ingin tangisku kelak menjauhkan kita.

Maka ku ingin, tangisku kelak lebih baik kulakukan ketika kebanyakan penduduk bumi terlelap. Meminta kita agar selalu dekat. Mengetuk pintu langit memohon perekat. Untuk hatiku, hatimu dan hati kita.

Maka dari itu, satu pintaku. Buatlah jarak tapi jangan beranjak.

 

Never Stop Learn 

Portofolio

By: Amiradhana Salsabila

Sudah besar? Be wise dalam memberikan penilaian ke orang. Jangan labeling sebelum observing. Data kamu sudah lengkap? Bagaimana data tentang penerimaan? Bukankah kamu ingin diterima orang lain sebagaimana adanya? Lalu bagaimana penerimaanmu pada mereka? Apakah kita better jika di posisi dia? Bisa handle? Belum tentu ‘kan?

Dalam manajemen organisasi,

Salah Satu Kisah

Portofolio

Ada, salah satu kisah panjang di hidupmu. Yang kau harapkan tak menghadirkan tangis, tapi malah memberimu banyak. Anehnya kau bertahan dengan itu.

Namun, ketika kembalinya rasa dari perginya yang tak terhitung sudah berapa kali membuatmu paham hakikat keberadaanmu untuknya. Kau memutuskan untuk melepasnya, terbang bebas mengudara. Hingga membiarkannya hanyut di lautan.

Kemudian, itu semua termaktub dalam sajak sendu penuh simpulan.

Bahwa…

Ada yang harus dilepas, untuk menguji ikhlas. Agar jika dia harus kembali, kau tahu harus bebas atau kebas. 

Ada yang harus dilepas, untuk menguji iman. Bukan perkara nyaman atau sekedar teman. Pastikan saja imanmu aman. 

Ada yang harus dilepas, dia yang lebih dulu pernah melepas. Bukan soal impas melainkan tegas. 

Ada yang harus dilepas, bahkan ketika dia baru mengakui benar adanya rasa setelah milikmu kau lepas untuk bebas.

Seperti sebuah tas, kau yang berhak putuskan kapan harus melepas. Membiarkannya tergeletak tanpa perlu mengelak. Mengisitirahatkan pundakmu sejenak. Untuk beranjak menua dengan dia yang sama-sama ingin menguatkan kelak.

-Dhanasalsabila

Rindu, teman duduk paling lamaku.

Portofolio

“​Omong-omong,  apa alasan dia rindu?”

“Mana ku tahu. Memangnya rindu butuh alasan?”

“Oh, terkadang ia membuatku kesal.

Kala rindu datang tiba-tiba.”

“Tapi masih belum bisa berbuat apa-apa

Atau

Rindu yang baru saja muncul?

Ah, klise.

Padahal, rindu adalah tempat belajar.

Saat kasus-kasus rindu yang lalu ada yang membuatmu tegar bahkan sampai terkapar.

 

Rindu terkadang melemahkan, meski yang kau rindu entah siapa.

Meski yang kau rindu tak kenal.

Karena lemah itu, rindu menjadi menguatkan.

Untuk bertahan, untuk berjuang.

 

Kau tahu bahwa ada tentang rindu yang belum pernah diawali temu?

Iya, ada. Rindu, yang saling menyapa dalam doa.

Rabb punya waktu terbaikNya untuk menjawab pinta hambaNya.

Karena memang, rindu tak harus berawal jumpa. Dia bisa jauh lebih kuat ketika berawal doa.

 

Tapi, apa yang kau sebut dalam doa tahu? Bahwa kau ingin menjadi teman duduk paling lamanya? Berjuang bersama dalam tangan yang saling menggengam?

Apa dia tahu?

Apa dia tahu bahwa ternyata dirinyalah mungkin juga adalah jawaban dari doa-doa kau selama itu?

Justru, mungkin. Di antara kau dan dia tak ada yang pernah tahu.

Bagaimana kalang kabutnya menahan diri yang tersipu. Hati yang mengharu. Lidah yang kelu. Di balik kata yang menuliskan kekakuan melainkan harapan.

Harapan bahwa andai, aku segera bisa menjadi teman duduk paling lamamu.

Hai, rindu. Segeralah bertemu.”

Kamu, Aku dan Sabar

Portofolio

Untuk kamu yang masih takut melepaskan rasa itu terbang

Untuk kamu yang masih takut membiarkan rasa itu jatuh bebas

Kamu bisa terbang dengan dia entah siapa yang mau terbang bersamamu dengan pesawatnya, asalkan kamu melepaskan rasa itu untuk jatuh. Jatuh untuk terbang. 

Akan ada yang menangkapnya. Dia, dia yang membutuhkanmu pun yang kamu butuhkan. 

Terbang, bawalah do’a itu mengetuk pintu langit.

Sabar, 

“Cintamu saat ini tidak disyariatakan. Cinta yang disyariatakan adalah cinta antara suami istri. Cintamu atau cintanya kini jelas tertolak. Karena rasa seperti ini merupakan buah dari banyak pelanggaran yang terakumulasi dalam waktu yang lama.” -Muslimah.or.id 

Sabar, sabar untuk mencinta pada waktunya. 

Sabar, jangan dilanggar. 

Sabar, menggapai halal dengan cara yang halal. 

Sabar, jangan lelah mencegah kemungkaran. 

Apabila benar, yang kau anggap susah akan terasa mudah. 

Apabila benar dia orangnya, tentu dia tak akan membiarkan kalian terkena makar syaitan. 

Sabar, teman. 

Senja Memerah Bercumbu dengan Kenangan

Portofolio

Aku ingat senja terakhir yang kita nikmati bersama. Menyusuri bibir pantai yang siangnya kau menemaniku berjemur di atasnya.

Aku ingat ombak terakhir yang menggulung kenangan. Dengan bulu babi di antara karang, seperti memberi pesan agar kelak aku harus kuat dan penuh kesabaran.

Aku ingat pantai terakhir yang kita injak. Dengan cumi-cumi bakar sebagai menu spesial makan malam, lalu pada pagi harinya kita beranjak pergi meninggalkan semua itu di belakang.

Pertemuan 

Portofolio

Sore ini sebelum pulang ke Depok, aku/ana/gue (pilih satu, saya aja ya). Ya, saya memenuhi ajakan seorang kawan utk hadir ke sebuah acara yg himpunannya adakan.  Berhubung kampusnya bukan daerah saya, nyari temenlah yg kira2 mau datang juga acara itu. Yasudah, saya hubungi salah satu kawan saya yang kuliah di sana, namanya Zidna. Janjian tuh kami.

Sudah sampai tepat pukul 16.00 (kurang si sebenernya, jajan dulu wkwk) dimana acaranya dimulai, tp ternyata Zidna masih di jalan. Tak apa aku menunggu, meski udah merinding sama bocah2 sana. Jd aja ga berani masuk sendirian, hehe. Zidna bilang, kalau ada temennya juga yg mau ikut acara itu. Yauwis, nanti bareng berarti.

Hampir 30 menit menunggu, takut kelewat jauh materi. Zidna minta saya nunggu di tenda biru aja. Dan alhamdulillah akhirnya Zidna sampai, dan kami langsung menuju lokasi~

Nah, sebelumnya Zidna nyariin temennya yg tadi dia bilang mau ikut juga. Nemu tuh sebelum naik lift. Kenalan, ternyata namanya sama-sama Mira, hahaha. Dia Miranti aku Amiradhana. Really have no idea deh or no clue.

Yaudah ngobrol seadanya sebelum sampai lokasi. Setelah sampai, duduk, alhamdulillah baru mulai pas kami sampai, dan mengikutinya hingga acara berakhir. Seorang Amira selalu bingung dong ya mau pulang naik apa, apalagi dr daerah orang. Zidna juga beda arah.

Pas lagi bingung itu, Zidna bilang “Nih, pulang bareng dia aja nih. Ke Depok juga,” wah menarik sekali dong tentunya.
“Pulang ke Depok? Yaudah yuk bareng. Naik apa?”

“Iya ke Depok, naik kereta aja yuk.”

“Oke kereta, Depoknya mana?”

“Depok Timur sih, tp mau ke balkot dulu nanti.”

Ya okelah, semacam itu percakapannya (padahal depan saya juga org Depok dan rumahnya lebih dkt, tp td dia ngilang) hingga sampailah pada pertanyaan saya ke Miranti,

“SMAnya dimana?”

“SMA 3”

“SMANTI?”

“Iya,”

“wohh, aku SMADA.  SMPnya SMPnya?”

“SMP 3, bento2”

“Bento??? Seriusan kamu anak bento?”

*Highfive!*
Yak, jadi dia adalah adik kelas saya waktu SMP. Maa syaa Allah :’ Tapi saat itu saya belum ngeh dia siapa…

Hingga saat menunggu mereka shalat, saya cari abis2an di ig, fb, gugle. Cuma punya clue “Miranti” ya susah lah ya. Akhirnya baru ketemu, nemu di status junior yg saya kenal. Nama lengkapnya Miranti dan itu sungguh tidak asing. Setelah sholat saya tanyakan, dan benar itu namanya. Wkwk. Maa syaa Allah.

Lupa2 inget apakah dulu kita temenan atau engga. Tp kayaknya temenan tp lupa kenalnya gimana. Sampai akhirnya dia ingat nama belakang saya. Maa syaa Allah.
Alhamdulillah, orang Depok, adik kelas, ketemu lagi. Jauh, macet, padat dan jarak sudah tak berasa. Apalagi lelah. Malah semangat dan bahagia (heleh). Seriusan. Wkwk. Pikir saya tadi hanya janjian sama Zidna, dtg acara udah titik. Pulang. Ternyata Zidna perantaranya~ yeay, Jazaakillahu khayra Zid~~

Yaa, pulanglah kami bersama. Dengan perjalanan yang padat, penuh cerita dan makna (habis satu buku jika saya ceritakan semuanya wkwk) . Ada beberapa nostalgia dan sharing2 wow. Obrolan yg cukup berat. Maa syaa Allah :’)

Saya selalu suka pada pertemuan. Saya selalu suka kejutan yang Allah beri untuk saya. Bagi saya itu seperti hadiah, tentu tergantung bagaimana kita memaknainya. Pertemuan kadang menghadirkan temuan.

Saya selalu suka pertemuan saya dengan orang baru yang memang cocok, sering ada kasus besar yang jadi pokok pembicaraan di sana. Selalu ada hal yang menginspirasi dan bisa dibagi. Selalu bisa menghadirkan cerita dan menjawab banyak tanya.

Bagi saya, teman adalah hadiah. Pemberian dari Allah yang harus kita hargai dan jaga.

Teman, termasuk jajaran orang-orang yang tak sampai hati melihat mereka terpuruk. Namun yang lebih sedih lagi apa? Ketika mereka tidak mau diajak bangkit.

Teman, saya tak peduli seburuk apa mereka menilai. Yang penting saya melakukan yang terbaik untuk mereka. Namun yang lebih sedih lagi apa? Ketika mereka pikir kau itu jahat padahal  tak pernah  sama sekali utk berbuat sejahat pikirannya.

Teman, tak peduli sudah pergi seberapa jauh. Yang penting, jika ia mau kembali, mereka harus tahu aku masih di sini. Namun, yang lebih sedih lagi apa? Ketika tulusmu tidaklah cukup baginya untuk membuatmu jadi teman yang baik.

Teman, yang aku tak pernah menyerah untuk mereka. Sekalipun ribuan tikaman pernah mendarat di dada. Namun, yang lebih sedih lagi apa? Ketika sabarmu hilang kemudian kau pergi dan menyerah.

Maa syaa Allah, semoga Allah memberikan kita teman-teman dan lingkungan yang baik. Semoga kita diberi kesabaran yang super duper lebih baik dari sebelumnya, asal diasah terus ya! Semoga kita istiqomah pula dalam kebaikan tersebut.

Jadilah hamba yang bisa berpikir dan jangan mudah putus asa. Karena itu bagian merupakan dari keimanan.
Itu serita saya sore ini! Jangan takut berteman! ^^