A.R.O.M.A

Cerpen, Portofolio

Apakah seseorang yang suka atau membenci kopi ialah orang yang sudah pasti punya cerita tentang kopi? Aku?

***

Selasa, 21 Oktober 2014

Kopi! Ya, aroma bubuk kopi mulai tercium dari pintu rumah. Hanya kopi hitam biasa. Kopi Liong, tahu? Kopi khas Bogor itu.

Hari ini rumahku kedatangan banyak tamu. Tamunya ayah. Mulai dari rekan-rekan, kerabat, saudara dan yang lain. Tentu saja mereka kesini untuk bertemu ayahku. Sebenarnya aku terlambat datang, karena aku berangkat dari kampus dan orang-orang itu lebih dulu sampai. Tapi, sepertinya akan lebih dari itu.

Ayah punya rumah baru dan akan pindah besok. Maka dari itu rumah ini begitu ramai sekarang. Benar sekali, makin malam justru semakin ramai. Hanya sebagian dari mereka yang kukenal. Orang-orang itu satu persatu menemui ayah di ruang tengah. Setelahnya mereka keluar mencari tempat untuk bergantian dengan tamu lain. Aku khawatir ayah lelah, tapi aku sama sekali tidak melihat satu tanda kelelahan atau bahkan setetes keringat di dahi ayah. Tentu saja, hal itu tidak akan terjadi. Haft, syukurlah. I love you yah!

Setiap yang datang menghabiskan kopinya dengan sempurna. Lalu mereka pulang dengan meninggalkan ampas kopi pada gelas-gelasnya. Kopi seduhanku ternyata tidak terlalu buruk. Setidaknya aku tak mencampuri bubuk sianida kedalamnya, namun bukan berarti harus aku juga yang mencuci gelas-gelas itu.

***

Ayahku adalah seorang yang humoris, hangat dan sangat supel. Dia pandai membawa suasana, suka menyambung silaturahim, juga tidak suka membenci. Agaknya bakat melawak itu menurun padaku. Orang-orang yang berada di dekat kami pasti bahagia. Ayah juga multitalent loh! Bisa apa saja. Bidang seni, pertelevisian, pertukangan, wartawan, berdagang, memasak, dan lain-lain. Pokoknya kreatif banget. Oh iya, bibiku bilang kalau budhe sedang dalam perjalanan ke sini. Kediri-Depok bukan jarak yang dekat, kalau di peta sih tidak jauh. Semoga saja dia cepat sampai agar tidak terlambat, sebelum aroma kopi ini hilang.

***

Rabu, 22 Oktober 2014

Dua hari lalu tepatnya hari Senin, sebelum berangkat ke kampus aku melihat sepasang sandal gunung dengan ukuran kakiku di dekat meja makan. Langsung saja kupasangkan sandal itu pada kedua kaki jeber ini. Aihh, pas betul. Pagi itu ayah sedang menikmati secangkir kopi Liong.

“Sendal siapa itu mbak?” tanya ayah.
“Gatau nih, tadi nemu. Wkwk” candaku.

Aku yakin betul sandal ini ayah yang belikan untukku. Tapi… Minggu lalu ayah baru saja membelikan aku sebuah tas. Di antara dua pilihan yang dia berikan, sandal atau tas. Aku memilih tas, sebab akhir minggunya ada malam keakraban di jurusanku, tas lebih aku butuhkan. Karena pilihan itu, seharusnya ayah baru akan membelikan sandal bulan depan. Itu yang dia katakan. Sementara ini masih hari Senin tanggal 20, belum sampai pada akhir bulan. Terlalu klise kalau aku bilang aneh. Tapi tak apalah, kurasa ayah berubah pikiran. Thank you, and I love you yah!

Pagi ini, rumahku masih beraroma kopi. Aku bingung, aku harus suka kopi atau tidak. Aku tidak meminumnya beberapa hari ini, malah kopi itu aku jadikan alat untuk membalas kekesalanku pada omku tadi malam. Caranya? Hanya dengan memasukkan tembakau rokok pada kopi hangatnya. Lalu dia minum, tanpa sadar akan kandungannya, padahal aroma tembakaunya begitu kuat loh. Sepersekian detik berikutnya, kopi itu sudah menyembur ke segala arah. Hahaha! Puas! Apa alasanku? Kau tak perlu tahu sekarang.

Orang-orang berdatangan lagi. Tapi budheku belum sampai-sampai. Dia yang lebih kukhawatirkan. Budhe adalah kakak dari ayahku, sementara bibi adalah adiknya ayah. Sudah di manakah dirimu duhai budheku? Mumpung aroma kopi ini masih ada budhe!

***

Hei, ayah sudah mandi nih. Ngomong-ngomong, pernah menyisir rambut ayahmu tidak? Hari ini rambut ayah aku yang sisir loh. Rapih! Oh iya, walaupun ayahku tidak ganteng dari sudut pandang ketampanan. Tapi sebagai anak, aku berani bertaruh bahwa ayahku adalah lelaki paling tampan di dunia. Bodohnya aku baru sadar hari ini. Maaf ya yah hehe.

Setelah mandi, coba tebak apa? Ayah pakai baju baru berwarna putih dan masih sangat bersih. Dia terlihat nyaman mengenakan baju barunya. Entah siapa yang membelikan, pokoknya aku senang melihat ayah dengan baju terbaik. Tapi, sepertinya sebentar lagi ayah akan berangkat. Sholat dulu sih. Terus tinggal menunggu jemputan, namun, kok budheku belum datang ya?

Sejak awal aku mengatakan tentang aroma bubuk kopi kan? Kopi liong. Iya, soalnya bubuk-bubuk kopi itu tersebar di seluruh penjuru ruang tamu rumahku. Lebih khususnya lagi, bubuk kopi itu ditaburi di sekitar ayahku. Ada juga yang ditaruh di mangkuk kecil. Jadi, seisi rumahku wangi kopi karena itu. Manfaatnya? Kopi bisa digunakan untuk menetralisir bau. Cukup berguna untuk menyamarkan bau jenazah yang ditaruh semalaman sebelum dimakamkan. Ayahku akan dimakamkan siang ini. Entah mengapa tidak dari kemarin saja. Padahal ayah meninggal pukul 11 siang. Mungkin itu permintaan beberapa orang, atau untuk menunggu budheku yang datang jauh-jauh. Demi melihat adiknya untuk yang terakhir kali. Entahlah.

Iya kawan, ayahku menemui tamu-tamunya di ruang tamu. Terbujur kaku tanpa nyawa bersama aroma kopi. Mereka bergantian untuk melihat sambil mendoakannya. Teman, saudara, tetangga, siapa saja yang mau melihat ayah sekali lagi kami persilahkan. Adik bungsuku saja bermalam bersama ayah loh, eh, maksudku bermalam bersama jasadnya. Orang-orang itu lebih dulu sampai karena mereka tahu kabar wafatnya ayah lebih dulu.

Alasan aku mengerjai omku dengan tembakau yang diseduh dalam kopinya, karena, dia menipuku habis-habisan! Ini sungguh sebuah takdir. Hari Selasa itu, omku sedang berkunjung ke rumah, lalu dia bertanya aku pulang jam berapa. Kuliah ku selesai sebelum zuhur hari itu. Kubilang bahwa aku mungkin pulang setelah Zuhur. Selasa siang, sebagai mahasiswi, aku dan beberapa temanku tidak langsung pulang. Kami ngerujak sambil ketawa-ketiwi di sebelah gazebo fakultas. Hari itu aku tidak merasakan hal yang aneh. Hanya yang kuingat, dua hari itu pelajaran di kelas tidak efektif dan sangat tidak menarik. Aku yang bodohnya ikut tertawa bersama teman-teman tak tahu bahwa ayahku sudah meninggal. Tak ada yang mengabari, ponselku sedang rusak. Omku pikir aku akan pulang cepat, tepat sesuai ucapanku. Setelah mendapat kabar dari senior yang ditelepon omku, aku diminta menghubungi om balik. Kemudian terjadi komunikasi yang kurang efektif bersama om dan tanteku dengan pinjam ponsel teman-teman, keputusannya aku akan dijemput.

“Ini tante lagi nyiapin baju mamah”

“Baju? Kenapa tante? Ada apansi, cepetan kasih tau!” paksaku.

“Tapi kamu yang kuat ya,–tuut tuut” putus? Sedikit lagi semua terjawab loh. Aku benar-benar masih belum tahu apa yang terjadi. Membuatku, menunggu dengan panik bersama beberapa teman.

Akhirnya omku sampai, aku dijemput di depan masjid seberang kampus. Saat di parkiran aku menemuinya. Aku bertanya lagi apa yang terjadi. Dia tidak mau menjawab,

“Om? Kenapa om? Ada apa?? Ih! Kasih tau sekarang gak!”

“Kamu kuat gak?” jawabnya parau.

“Ih udah kasih tau aja ada apa!! CEPETAN!”

“Ayahmu meninggal..” hah? Apa yang baru kudengar? Ayahku meninggal? Saat itu pikiran dan hatiku benar-benar kacau, memutar cepat memori dan pikiran untuk masa depan. Seperti apa hidupku setelah ini?

“Bohong!? Seriusan beneran om? Masa meninggal?” jujur, aku lupa apa saja yang kukatakan saat itu. Yang aku ingat, aku berteriak-teriak di parkiran masjid. Kemudian teman-temanku pamit dan menyuruhku bersabar. Tapi tiba-tiba, om ku bilang

“Enggak-enggak, ayahmu mau ke nikahannya mba Dina. Makanya kamu disuruh pulang.”

“Lha? Beneran ini? Ayahku ga meninggal? Ya ampun aku senang sekali,” pikir ku saat itu karena memang ada tanteku yang menikah besok di Jawa

Lalu aku tiba-tiba berlari ke arah temanku yang belum jauh. Mereka sedang menjelaskan kepada seorang bapak yang bingung mengapa aku teriak-teriak. Tapi aku meralatnya dengan mengatakan..

“Ehh enggak-enggak! Ternyata ayah gue ga meninggal! Gue mau ke Jawa ke nikahannya tante gue!!” entah mereka jawab apa saat itu. Intinya, aku percaya pada ucapan om. Toh dia juga berlagak normal dengan membeli tahu crispy untukku.

Kami pun pulang. Selama perjalanan di motor, aneh betul. Spion motor om diarahkan ke wajahku. Matanya, merah sedikit berair. Tapi pikiran ku masih belum beres. Aku memikirkan semua kemungkinan, bagaimana jika ayahku betul-betul meninggal? Aku tidak menangis tidak. Tiba-tiba ponsel om ku berdering, entah bagaimana caranya tiba-tiba ponsel itu aku ambil. Ternyata itu dari kakekku. Aku angkat namun tidak ada yang menjawab. Sambungan terputus, oke, aku coba lihat pesan masuk. Kakek hanya bertanya kami sudah sampai mana.

Bodohnya, mengapa aku begitu mudah diam hanya dengan kata-kata kebohongan itu? Beberapa saat sebelum sampai rumah, om memintaku untuk melepas helm. Apa lagi ini? Lalu dia mengambil tangan kiriku. Kekhawatiran itu pun terjawab..

“Kamu yang sabar ya…”

“Lha, kenapa om? Kenapa??” Ya Allah.

“Ayah kamu beneran meninggal”

“Apaan? Hah? Om kok boong sama aku? Blablablabla,” begitu banyaknya kalimat yang terucap dan tidak sempat terucap. Melasnya diriku yang sudah bilang ke teman-teman bahwa ayahku tidak jadi meninggal namun ternyata benar-benar meninggal. Kami hampir sampai, mulai terlihat bendera kuning berkibar. Sepertinya sudah maghrib ketika kami datang, adikku yang tinggal bersama bibi di Cirebon dan aku dari Ciputat, tiba bersamaan. Kemana saja aku? Bodohnya.

Orang-orang sudah ramai, malah katanya beberapa temanku sudah datang dari sore. Aku berjalan menyusuri gang rumah, tatapan-tatapan iba mulai mengguyur. “Itu anaknya, itu anaknya yang pertama ya?”. Langkah pertama aroma kopi mulai tercium, aku masuk lewat pintu dapur. Bisa apa aku kalau masuk langsung dari pintu utama dan melihatnya langsung. Di dapur ada omku yang lain, dia melihatku, terisak, lalu aku langsung memeluknya. Kemudian aku lihat kakekku, terisak, lalu aku juga memeluknya. Ayah mulai terlihat, jasadnya menghadap kiblat ditutupi oleh jarit. Aku tidak berani mendekat, aku gemetar, lemas dan jatuh dipangkuan tanteku. Kasian, tante keberatan menopang.

“Ya ampun, aku harus jadi anak sholehah banget dong ya Allah? Aku anak pertama ya Allah.” tangisan dan kata-kata memelas tanpa sadar terucap. Saudara-saudara berada di sekelilingku untuk menyemangati. Mereka bilang “Masih ada om, tante, dan yang lain mba, tenang mba,” aku tak tahu kebohongan jenis apa lagi itu. Atau memang ucapan yang belum terealisasi?

Mamaku terlihat begitu lemas, aku juga tidak berani menemuinya. Kedua adikku sepertinya sudah menangis lebih dulu. Katanya aku yang paling sedih di awal. Tapi, beberapa hari kemudian ketika teman-temanku datang untuk menghibur, aku loh yang malah membuat mereka tertawa. Percaya deh.

Malamnya aku menghubungi salah satu dari temanku tadi yang menemaniku, entah nomor siapa dan siapa yang akan menjawabnya.

“Oh Uum. Hum, ayah gue beneran meninggal. Bilangin yang lain ya. Sama izinin juga, kayaknya besok gue ga bisa masuk.”

“Bercanda lu Mir…” jawabnya.

Sehumoris-humorisnya aku dan keluargaku, kami tak akan mungkin berani berbohong soal kematian. Ya kecuali omku yang tadi. Karena pertanyaan tadi pagi (aku pulang kapan), dia pikir aku akan segera pulang tanpa perlu dijemput. Hei, kamu bisa bayangkan tidak? Bagaimana kalau aku pulang dengan melihat bendera kuning dan karangan bunga di depan rumahku? Lalu melihat jasad orang tuaku di ruang tamu? Ternyata renungan yang diucapkan motivator-motivator itu benar-benar terjadi padaku. Padahal aku hampir tidak pernah menangis karena itu. Kamu pikir orang tuamu akan hidup selamanya?

Itu alasanku mengerjai om dengan kopi dan tembakau. Aku benci kebohongannya. Atau mungkin aku yang terlalu bodoh untuk mudah percaya.

***

Baju baru ayah, kain kafan, masih putih dan bersih. Itu pakaian terakhir bagi setiap muslim yang meninggal. Ayahku sudah tidak bisa menyisir rambutnya sendiri dan aku bangga bisa melakukan itu untuk ayah. Seusai ayah disholatkan, mobil jenazah datang. Ayah dijemput untuk diantar ke rumah masa depan, tempat peristirahatan terakhirnya di dunia sebelum dibangkitkan saat kiamat. Kami berangkat kepemakaman.

Ayahku memasuki rumah barunya yang berukuran dua kali satu meter, kemudian ditimbun oleh tanah. Karena itu kami tidak mungkin ikut pindah. Ya ampun, aku tidak dapat melihatnya lagi sekarang.

Di rumah, tak lama setelah ayah dimakamkan, aku melihat seorang ibu hampir berusia separuh baya berlari terburu-buru dari ujung gang dengan tas di kedua tangannya. Semakin ibu itu mendekat, aku mulai mengenalinya. Wajahnya mirip sekali dengan ayah. Ah itu dia, budheku. Sampai di depan rumah, budhe langsung tersungkur. Pemandangan yang miris sekali. Dia naik ojek dari Pasar Rebo dengan membayar lima puluh ribu rupiah supaya cepat sampai sini. Tidak sia-sia, namun budhe kurang beruntung. Ayah baru saja dimakamkan. Dia hanya ingin bertemu adiknya, namun terlambat. Aroma kopi itu masih ada kok, bubuk kopi Liong yang suka adiknya minum setiap pagi. Hanya saja adiknya tidak. Tak apa budhe, nanti kita semua janjian di surga ya?

***

Hari Senin itu adalah hari terakhir aku bertemu ayah. Saat aku pulang, ayah sedang dinas malam. Selasa paginya lanjut meliput pelantikan presiden baru. Kami tidak sempat bertemu lagi. Andai aku tahu itu saat terakhirnya, aku tak akan menyia-nyiakan sedetik pun untuk bersama. Sekarang aku tahu mengapa ayah membelikan aku sandal sebelum waktunya.

Jadi bagaimana? Haruskah aku suka kopi untuk menulis kisah? Atau haruskah aku membencinya? Benci karena tidak suka atau benci karena aroma bubuk kopi Liong selalu mengingatkanku pada ayahku? Ya, aroma. Aroma kematian.

 

Advertisements

3 thoughts on “A.R.O.M.A

  1. BS : Dek dewi apa kabar?? sibuk apa??
    DP : Baik Mas, ya cma kerja aja
    BS : Bpk gmn kabarnya?? masi kontrolkan.
    DP : Alkhamdulillah sehat mas, gk mau kontrol tp bs jln ke mesjid kok.
    BS : Dijaga bpk nya, terutama dijaga ya dek makanan bpk. pokonya Dek dewi jaga Bpk dan Mama ya.
    DP : iya mas, pst.

    Perbincangan di BBM pagi hari dan siang jam 12.00 mndapatkan tlp bahwa Ayah Mira sdh tiada.
    tetap semangat dan menjaga kesehatan selalu ada disetiap sapa itu datang, selalu menjadi kaka yg baik walaupun hanya sebatas Kaka Sepupu, selalu mengayomi disetiap pertemuan itu hadir.

    Thanks and Good Luck Dek Mira

    Liked by 2 people

    1. Ooohhh ini ta mbae pesannya ayah. paginya di hari ayah meninggal, berarti itu pesen terakhir dari ayah ya buat jagaa mbah2 yoo T.T Suwun tante Deww, inget pesen ayah selalu yo :’) semoga hal2 baik ayah bisa aku contoh ya mba dan nurun ke aku “tetap semangat dan menjaga kesehatan selalu ada disetiap sapa itu datang, selalu menjadi kaka yg baik walaupun hanya sebatas Kaka Sepupu, selalu mengayomi disetiap pertemuan itu hadir.” Aamiin. titip salam buat mbah2ku yo mbakkk. ayah kan yg paling rajin ya telpon sodara2 :’

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s