Communication Problem

Portofolio, Relationship, Thought

Pada tulisan ini, saya akan membahas mengenai hal yang sering menganggu pikiran saya karena kurangnya keberanian saya dalam berkata langsung pada orang-orang yang bersangkutan. Untuk yang pernah saya utarakan mengenai ini namun masih samar, dan bagi kamu siapa saja yang membaca tulisan ini. Di sini saya akan menjelaskan hal tersebut dengan lebih detail.

Saya yakin banyak dari kita yang melakukan ini tanpa sadar, atau khilaf. Juga jarangnya orang terdekat yang mau mengingatkan, dan hingga sekarang ternyata kita masih seperti itu. Bagi kamu yang sudah tidak seperti itu, saya salut dan akan lebih salut apabila kalian membantu kawan lain dengan mengingatkan mereka, semampu kalian, untuk kebaikan semua.

Nah. Coba diingat-ingat, kapan terakhir kali kita mendengarkan dengan baik cerita dari teman kita? Kapan terakhir kali kita merespons cerita mereka dengan pantas? Apakah dalam detik berikutnya kita masih ingat apa yang kawan kita ceritakan? Atau malah jangan-jangan selama ini kita tidak sadar mereka baru saja berbicara? Atau ternyata kita tidak mendengarkan dan hanya mau didengar?

Pesan pertama untuk kita semua. Jadilah orang yang mau didengar dan mau mendengarkan. Jangan jadi orang yang maunya orang lain dengar apa yang kita bicarakan, namun, giliran orang lain berbicara hanya jasad kita saja yang ada, sedangkan mata dan pikiran kita malah berwisata. Dipanggil jawab ‘hah’  ditunggu jawabannya ternyata kitanya tidak ada. Kasian, lebih baik tidak usah bercerita biar tidak bertepuk sebelah tangan.

Saya berikan contoh kasusnya,

A:         “Eh Mel (dengerin gua), kan kemarin gua ke Tanah Abang. Terus gua ketemu sodara gua yang suka gua ceritain itu. Masa dia kocak banget dah, gua dibilang kurusan wkwk. Padahal berat gua baru nambah 2 kilo kemaren wkwk.” Si B fokus mendengarkan, menatap sambil sedikit merespons sebelum dia memberikan respons utama.
B:         “Ih serius? Kok bisa ketemu si? Dia ngapain di sana? Wuakak kurusan, bisa aje dah. Kurusan darimana coba? wkwk”
A:         “Iya, dia lagi beli bahan di situ. Papasan abis dari toko langganan keluarga. Gua juga mau ke situ. Tau ya wkwkwk”
B:         “Pantesan, kemungkinan ketemunya mah gede”
A:         “Iya, makanya”
B:         “Kalo kemarin gua Put,” mulai bercerita “Put,” memanggil sekali lagi untuk memastikan ‘keberadaan’ kawannya.
A:         “Hah, iya?” si A sibuk dengan ponselnya (atau bisa saja sibuk dengan yang lain) tidak menatap apalagi menunjukkan antusiasnya dan si B tetap melanjutkan karena dia meyakini kemungkinan kedua bahwa si B mendengar.
B:         “Gua kemarin di pasar Senen beli kacamata sama mama gua. Masa gua ditanya kelas berapa sama abangnya, seneng banget dah. Padahal biasanya gua dipanggil ibu. Kocak dah. Ha ha ha….” Mengakhiri tawanya sambil memperhatikan respons si A.

Si A masih bermain ponsel, dan ternyata itu tadi ujung pembicaraan mereka. Nyatanya si B tidak didengar. Malunya lagi apabila ada kawan lain yang menyimak perbincangan mereka, mungkin akan berkata “yah kesian dikacangin, wkwk”.

“We’re there, but we don’t listen” masalah di atas juga sama beratnya dari masalah terbesar komunikasi yaitu, “We listen to reply , not listen to understand”.

Untuk masalah ini, saya  salut dengan teman saya yang sabar mendengar saya bercerita. Kemudian dia berproses dengan pikirannya (di satu sisi manusia sekarang ada yang malas untuk berpikir, di sisi lain ada manusia yang berlebihan dalam berpikir), setelah itu saya mendapat feedback darinya berupa respons yang baik. Tanpa dia terburu-buru bercerita ‘tentangnya’ karena dia tahu kali ini dia harus ‘mendengar’. Tidak selalu tentang curhat, dalam diskusi ringan about human problem nowadays around us  atau bahkan diskusi berat.

Saya kagum pada akhlak yang seperti ini. Maa syaa Allah. Dia tidak sarkas meminta temannya untuk hanya mengatakan apa yang mau dia dengar, apa inti dari pembicaraan (sakit euy, teu sopan). Dia tahu bagaimana menghargai kawannya – ya, saya merasa dihargai. Dia tidak bercerita sebelum ditanya atau sebelum kawannya (dirasa) selesai bercerita, atau bercerita jika memang cerita dia adalah solusi bagi cerita kawannya. Dia tidak terganggu dengan pikirannya untuk buru-buru menceritakan suatu hal tentang dirinya yang tiba-tiba dia ingat, yang masih bersangkutan dengan cerita kawannya. Sehingga feedback yang didapat adalah berupa ‘respons’ bukan ‘cerita tentangnya’ yang mestinya kita semua tahu bahwa dalam waktu tertentu kisah kita sama sekali tidak menarik untuk diceritakan pada orang lain. Atau setidaknya kita tahu waktu yang tepat untuk bercerita, dan bukan ketika teman kita sedang bercerita. Salut pada mereka yang masih bersikap baik walau ceritanya tidak direspons dengan baik.

Apabila kita mendengar untuk ‘membalas’ dengan cerita yang kita punya tanpa lebih dulu mengerti dan memberi feedback yang baik, menurut saya kita tidak benar-benar mendengar.

Tidak jarang saya berpikir bahwa lebih baik saya tidak mengatakan apa-apa pada kawan saya yang padahal saya sudah tahu kemungkinan besar respons mereka seperti apa. Tapi, saya masih butuh bercerita, bercerita padanya, dan sampai detik itu saya belum bisa mengutarakan kekecewaan saya terhadap respons mereka, yang pada waktu tertentu menumpuk dan membuat saya menyesal kemudian saya mena…–. Dan pada kenyataannya, saya tidak bisa membenci mereka hanya karena kesalahan di atas kesalahan. Maka dari itu saya membuat tulisan ini.

Dengar, pahami, respons. Jangan dengar kemudian timpal. Ada yang bahkan kawannya baru selesai berbicara tentang kepunyaannya, dia langsung menyambar dengan kepunyaannya. Contoh:

A:         “Eh liat deh, aku punya tahi lalat di tengah telapak tangan. Aku bingung, aneh ya.”
B:         “Aku nih, jempol kanan aku lebih pendek dari jempol kiri aku. Lucu kan?” sambil langsung menunjukkan jempolnya. Maka, mau tak mau teman yang bercerita pertama harus bersikap manis karena gabisa ngambek, apabila dia bukan tipe blak-blakan.

A:         “Ih, iya kok bisa sih. Ih lihat dong, wah lucu ya.”

B:         “Iya, aku gatau. Orang-orang juga suka bingung ngeliatin”

Dan… percakapan mereka berlanjut membahas si B yang jempolnya pendek sebelah,  mengabaikan materi si A.

Contoh lain:

X:         “Net, kelinci aku baru melahirkan loh! Anaknya yang pertama buta deh kayaknya.”

Y:         “Kelinci aku juga abis ngelahirin. Anaknya 6, lahir di gelas.”

X:         “yah.. ih again.. ga direspons L gapapa lah, kalau aku ga suka. Aku ga boleh bersikap seperti orang yang perbuatannya tidak aku suka. Dahulukan orang lain. J” pikir si X dalam hati yang kemudian merespons “Wah, kita samaa. Betina berapa, jantan berapa? Lucu deh masa lahir di gelas.”

Y: “u,u Iya, kemarin dia masuk ke pot bentuk gelas yang udah ga kepake di taman. Eh ternyata ngelahirin di situ. 3 betina, 2 jantan, satu kurang jantan.”

Dan… percakapan berlanjut tanpa ada respons mengenai kelinci si X, karena apa-apa tentang Y memang menarik untuk dirinya sendiri. :/

Bagaimana? Gamau kalah walau tidak sedang berlomba? Kayak bocah ya? L Entahlah, mungkin pelaku sedang khilaf. Baik, saya berikan topic yang sama dengan respons yang lain.

Contoh 1

A:         “Eh liat deh, aku punya tahi lalat di tengah telapak tangan. Aku bingung, aneh ya.”
B:         “Coba mana? Lhaa iya. Ini beneran? Bukan spidol kan?”

A:         “Ya beneran lah, tuh, mana bisa dihapus.”

B:         “Eh, aku kira kamu sengaja ngasih spidol permanen. Wkwkw. Maa syaa Allah ya. Aku aja ga punya tahi lalat wkwk.”

A:         “Yakali pake spidol, wkwk”

Nah, setelah direspons baru si B juga bercerita hal menarik tentang dirinya.

B:         “Kalau aku nih, liat, jempol kanan aku lebih pendek dari jempol kiri aku.”

A:         “Mana? Eh, kok aku baru sadar? Ihh iyaa, maa syaa Allah. Keren dah.”

B:         “Iya, aku gatau. Orang-orang juga suka bingung ngeliatin. Alhamdulillah masih punya jempol.”

Contoh 2

X:         “Net, kelinci aku baru melahirkan loh! Anaknya yang pertama buta deh kayaknya.”

Y:         “Hah beneran? Bareng dong kayak kelinci aku! Anaknya berapa? Kok bisa buta sih?”

X:         “Iyak, ihh samaan lagi dong! Tahun kemarin juga bareng ya! Ada 6, gatau kenapaa kasian. Kelinci kamu berapa anaknya?”

Y:         “Ciyee sama lagi, jangan-jangan… u,u iya ihh kasian L  Kelinciku anaknya 6, lahir di gelas. Mati satu. Tinggal 5.”

X:         “Yah mati, sedih. Betina berapa, jantan berapa? Lucu deh masa lahir di gelas.”

Y: “u,u Iya, hari apa gitu dia masuk ke pot bentuk gelas yang udah ga kepake di taman. Eh ternyata ngelahirin di situ. 3 betina, 2 jantan, satu kurang jantan. Yang mati yang kurang jantan.”

Kemudian, mau percakapan-percakapan itu berlanjut ataupun berhenti akan terasa lebih indah dengan keridhaan karena menghargai satu sama lain. J

Emang sih, kasus-kasus kayak gini sepele ya – bukan topiknya yang saya maksud. Tapi akui saja, terkadang kita atau orang-orang terdekat kita tidak sadar menjadi menyebalkan seperti itu. Dengan kasus-kasus di atas tadi, saya berpendapat bahwa memang ada orang yang didatangkan pada kita hanya untuk bercerita pada kita, bukan untuk sebaliknya.

Tunggu, kekurangan spesifik pada pelaku yang sedang kita bahas jangan dijadikan tumpuan akan penggambaran diri pelaku  secara keseluruhan ya. Di luar ini, tentu masih banyak sekali kelebihan dan akhlak-akhlak baik pelaku, bahkan mungkin jauh lebih baik dari kita. Kita juga tidak mau dipandang buruk hanya karena satu keburukan, ‘kan? Okeh? Lanjut.

Terkadang, penyebab seseorang enggan menegur temannya yang berbuat demikian adalah akibat tingkat kesempurnaan yang diberikan orang itu sendiri pada temannya. Dia tidak tahu bagaimana harus menasehati kawannya, karena biasanya dia yang dikritik. Atau karena dia enggan menggeluti masalah baru dalam hubungan pertemanannya sehingga dia pendam sendiri yang kemudian dia sakit sendiri entah sampai kapan kuat menahan.

Apabila kita menemukan hal yang mengecewakan darinya pertama kali, kemudian kita berusaha menepisnya karena mungkin saat itu dia tidak sengaja melakukannya. Tapi ternyata, sepanjang pertemanan setelah itu, dia terus melakukannya dan kita masih belum bisa menegurnya akibat penilaian kita tentang sempurnanya dia. Terima saja kekurangan itu, singkirkan standar kesempurnaanmu karena dia manusia, sama sepertimu. Dia perlu nasehat. Meski, secara keseluruhan dari dirinya adalah baik menurut kita, dan menjadi panutan bagi kita. Nasehati dengan adab, nasehati dengan akhlak. Doakan terus kawanmu itu, ya!

Di sini saya tidak meminta kalian untuk menjadi orang lain, saya hanya minta agar kita jadi lebih baik lagi dalam berhubungan dengan orang lain. Apabila akhlak itu belum ada pada diri kita, berarti itu adalah salah satu akhlak yang harus kita usahakan. Begitu juga dengan saya, kamu tidak bisa meminta saya menjadi orang lain, namun saya akan sangat menerima saran-saran rasional darimu untuk membuat saya menjadi saya yang lebih baik. Apalagi yang ada dalilnya. Apalagi yang bermanfaat untuk kedepannya, juga untuk orang-orang di sekitar saya yang berarti itu akan sangat bermanfaat buat saya – dan kamu.

Memang, hal yang menarik bagi seseorang adalah diri mereka sendiri.  Dan itu adalah senjata bagi kita untuk membuat orang suka pada kita tanpa perlu bersusah payah. Tunjukkanlah minatmu pada lawan bicaramu. Tunjukkan kalian tertarik, kalian mendengar, kalian ada. Bicarakan tentang mereka pada mereka. Lakukan sesuatu untuk mereka. Buatlah mereka nyaman . Setelah itu, buatlah mereka aman dengan menjaga cerita-ceritanya. Kemudian tanggapi mereka dengan cara terbaik. Itu sebagai bentuk pemberian kepercayaan darimu pada mereka sehingga mereka juga memberikan kepercayaannya padamu.

Posisikan kamu sebagai pencerita juga, agar kalian percaya satu sama lain. Bagaimana bisa kedekatan itu terasa jika yang merasa dekat hanya satu pihak saja, ‘kan? Yang mendengar merasa dekat karena dia penerima. Sementara pemberi cerita susah merasakan itu karena lebih sering bicara tanpa mendapat cerita, tidak saling memberi, tidak ada yang diterima. Atau sebaliknya pada kasus pertama, yang merasa dekat yang berbicara. Giliran lawannya bercerita ogah-ogahan dengar. Prosesnya akan lama. Terasa berbeda dan lebih cepat dekat dengan mereka yang komunikasinya efektif dan sehat. Tapi semua itu tergantung prinsip setiap orang dalam mengatur apa yang bisa dia ceritakan dan apa yang tidak pada orang lain. Intinya, saling memahami dan jangan lupa sehat deh.

Bangun komunikasi yang sehat dengan orang-orang terdekatmu, ya.  Ah, dan yang paling utama, lakukan semua itu dengan tulus, lakukan semua itu dengan ikhlas, lakukan itu karena Allah dan mengharap RidhaNya J. Karena, apabila kita melakukan semua itu karena Allah, seberapa besar pun kita dibuat kecewa oleh makhlukNya, kita akan cepat bangkit lagi. Balasan Allah itu pasti walau tidak mesti dibalas melalui orang yang kita  berikan ketulusan dan keikhlasan tersebut.

Semangat terus untuk jadi manusia yang lebih baik ^^9

Amiradhana Salsabila

Ciputat, 6 Januari 2017

Advertisements

5 thoughts on “Communication Problem

    1. Hai anonim! Komunikasi itu sangat penting terutama dalam membina rumah tangga. Kemampuan berkomunikasi yang baik adalah ilmu yang harus ada dalam list persiapan menikah. Berarti itu harus dipersiapkan.

      Komunikasi yang baik akan sangat mendukung rumah tangga sepasang suami istri dan keluarganya. Jika kamu ingin berumah tangga, mestinya kamu harus sudah menyiapkan skill komunikasi yang apik untuk menghadapi pasanganmu dan orang-orang baru di keluarga besar kalian.

      Semoga kamu semakin baik ya dalam berkomunikasi! 🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s