(Penduduk) Bumi dan Rem

Analogi, Message, Portofolio, Thought

Bumi, bukan tempat yang cocok untuk kamu tinggali, kalo kamu disenggol dikit aja, baper.
Bumi, bukan tempat yang cocok untuk kamu tinggali, kalo kamu mau menang sendiri.
Bumi, bukan tempat yang cocok untuk kamu tinggali, kalo kamu gamau dikritik sana sini.


أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.
(Q.S Al-Hajj: 46)

Bumi itu, tempat manusia tinggal. Otomatis hubungan kita ke penduduk bumi lain juga dituntut untuk manusiawi. Manusia(termasuk kita) bersama merekalah kita hidup.

Terkadang, kita sering menuntut manusia lain untuk seperti ini, seperti itu, begini, begitu. Tapi kita lupa, menuntut diri kita sendiri untuk itu.

Menuntut orang lain untuk mengerti kita, namun, giliran orang lain nuntut kita karena kesalahan kita, kitanya malah jadi korban. Menjadi orang yang paling merana padahal kita penyebab mereka menderita. Alih-alih kita yang dipenjara, tapi kita malah jeblosin orang yang ingin buat kita jera. Yang ingin buat kita sadar sama kesalahan-kesalahan kita. Yang ingin kita jadi penduduk bumi yang lebih baik karena kita tinggal bersama mereka.

Sebagai penduduk bumi yang walau tidak punya kendaraan pribadi satupun, seenggaknya kita harus punya rem. Rem yang ada pada diri kita sendiri, untuk menahan apa yang tidak perlu kita ucapkan. Untuk menahan kata-kata dan perbuatan yang sekiranya memperburuk keadaan. Rem yang penggunaannya perlu dipikir matang-matang. Dimanapun!

Sebelum kita berada dalam suatu keadaan atau pembicaraan, cek dulu apakah rem kita masih aman digunakan atau apakah kita siap untuk menggunakannya. Jangan sampai ketika di tengah jalan, baru menyesal karena rem kita ternyata blong. Atau malah lupa ngerem, meleng sana sini nabrak hati orang. Hancur. Pas diminta ganti rugi, cari alasan. Ya ngaku salah sih, toh sama-sama hancur. Tapi akibatnya kita makin rusak kalo ga segera diperbaiki. Sedangkan yang orang itu mau, bukan kamu perbaiki apa yang tampak aja. Tapi remnya juga yang ada pada diri kamu. Biar ga ada orang lain yang jadi korban. Ya yang paling parah sih, abis nabrak terus kabur. Ga menyelesaikan masalah. Kabur padahal remnya masih bermasalah. Kalo gitu bisa apa? Bisa nambah banyak korban lah~

Kalahkan diri sendiri!

Iya, kita perlu ngalahin diri sendiri dulu. Karena berbicara bukan hanya dengan nafsu, vibrasi pita suara dan mulut. Tapi juga dengan pikiran dan qalbu kita. Gunakan itu. Ketika kita tau bagaimana kita kalah, kita tidak akan menggunakan diri kita yang itu lagi. Eh gimana sih? Gini-gini.

Misal, si Ujang itu orangnya nyinyir banget. Temen-temennya ga suka sama dia karena apa aja dikomenin. Belakangan Ujang sadar kalau itu tidak baik ternyata. Banyak orang yang tersakiti. Akhirnya Ujang bertekad untuk mengalahkan kenyinyirannya dengan menahannya pelan-pelan sampai akhirnya dia tidak seperti itu lagi. Ujang berhasil mengalahkan diri dia yang nyinyir. Ketika kenyinyirannya kalah dengan tekad dan sabarnya, Ujang tahu kalau diri dia yang nyinyir itu ga perlu ada lagi. Jadi Ujang hanya perlu membawa pemenang dalam dirinya sebagai pengganti, yaitu Ujang yang sabar. Yeay!

“…. Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.

Kalau kita merasa semesta kayak ga dukung kita, alias apa saja yang kita lakukan selalu bermasalah bagi penduduk bumi lain. Padahal kita udah mendapatkan banyak nasihat, udah disuruh mikir. Tapi masih aja ga beres. Atauuu kita bingung ada apa sih dengan orang itu? Kok tindakannya selalu ga masuk akal? Dia dia mikir gak sih kalau itu salah? Kalau itu nyakitin? Dari sananya begitu kali yak? Kalau kita tuh nasehatin bukan untuk mojokin dia dan omongan kita tentang dia itu untuk mencari solusi bagi dia. Bahkan sampe kenapa-napa. Wahh ada yang miss, nih.

Nah, kalo kayak gini jangan pusing dulu. Bisa aja mungkin Qalbu kita atau dia belum tersentuh :'(.

Pusing-pusing nyuruh mikir, alih-alih sadar, eh malah makin keras. Mending didoain! Cek hati sendiri kenapa bisa gini atau minta dia cek hatinya (kalo berani).  Paling ampuh ya berdoa, mohon supaya kita dan penduduk bumi lain dilembutkan, bisa dengan mudah menerima nasehat apabila memang terdapat kesalahan pada diri kita. Minta hidayah, sob! Hidayah itu mahal 😦 Dan ngeri banget kalo hati mulai mengeras.

Perbanyak ilmu, datangi kajian secara rutin. Deketin terus sang pencipta, al-Qur’an dan penuhi hak-haknya. Atas izin Allah, itu akan melembutkan hati kita. Rasakan sejuknya hidayah mengguyur hati kita sehingga melunak. Karena hati yang lunak akan mudah menerima nasihat.

Oh iya, dengan ini, berarti Ujang telah berhasil menggunakan Qalbunya dengan benar atas izin Allah. Akalnya difungsikan dengan baik. Semoga Allah selalu memudahkan ya Jang!

Gitu… So, kita mesti hati-hati. Belajar ngerem dari sekarang. Kalau sekiranya rem itu tidak bisa difungsikan kelak, lebih baik gausah tancap gas. Ishbir, sabar. Itung-itung ngurangin kemungkinan dosa. Terus. Kalau kita pandai ngerem nih, dijamin, hidup kita lebih tenang! Ga senggol bacok senggol bacok.  Ga mesti gue apa kata gue.  Ga join left join left, deh. Penduduk bumi hidup tenang, yeay!

Okedeh. Jangan lupa luruskan niat berorientasi akhirat, ya!

Semangat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s