Dia minta maaf, aku minta eskrim 

Portofolio

Ini, cocok. 👌

Perempuan yang patah-hati, kemudian dia bisa mengobati lukanya (meski susah payah).

Maka dia tidak pernah sama lagi seperti yang dulu kita kenal. Dia telah berubah menjadi perempuan yang lebih tangguh, lebih kuat dan lebih mandiri.

Bukankah begitu? 🙂

*Tere Liye


Minta maaf itu mudah. Maaf sana, maaf sini, maaf di mana-mana.

Tapi berubah itu lebih sulit lagi. Dan inilah poin paling pentingnya.

Jadi, minta maaflah, lantas berubah. Itu baru kongkret. Karena ketahuilah, orang2 yang tidak berubah setelah minta maaf, boleh jadi tidak berhak atas kesempatan kedua. 

*Tere Liye



Aku mau cerita. Tentang maaf. 

Aku keren. Dia minta maaf, aku minta eskrim. 

Kok? Karena dia gaenak cuma bisa minta maaf. Aku bilang aku emang cuma pantes dapet maaf. Trus dia gatau aku maunya dapet apa. Aku bilang aku maunya eskrim. Dia tanya lagi mau apa. Aku jawab anak kucing. Katanya itu agak susah. Sate padang kataku. Udah itu aja? Kata dia. Helikopter, tambahku. Yang make sense dong, dia belum mampu katanya. Yasudah, kubilang itu saja cukup. 

Lalu satu hari, ketika semuanya hendak diakhiri, dia bilang jangan meminta padanya apa yang sudah pernah dia janjikan untuk dia beri. Baiklah. Memang, aku hanya pantas dapat maaf. Kalau tak ditanyapun aku tak akan meminta yang lain. 

Tapi, di suatu hari, hari pertama di tahun itu aku melihatnya. Dia belikan eskrim itu. 

Ya, apapun bisa terjadi. Bahkan ketika kau telah lupa apa yang pernah kau inginkan yang saat itu tak bisa dia berikan. 

Mungkin, ketika semua sudah biasa, Allah akan mengejutkanmu. Memberikan sesuatu yang dulu kau inginkan. Meski dulu juga ada yang bilang tak mau memberikan. Bukankah Allah yang menggerakkan? 

Tolong, jangan komen aneh-aneh. 

Janji, Patah yang Terakhir

Portofolio

“Dan akhirnya, sekarang Mei benar-benar datang, dan sekarang dia benar-benar pergi.”-Rizma

Mei sudah mau habis, dan dia sudah pergi. Dan patah lagi.

Mungkin kau lelah melihatku patah, yang lain pun begitu.

Mari berhitung, ini patahku yang ketiga.

Patah begitu saja, akumulasi dari terpaan yang lalu. Jatuh berulang-ulang, tanpa sadar membuat retak. 

Akhirnya pun tidak kuat. 

Semua terlihat masih sama, hanya saja sedikit berbeda. Aku lebih sering meraba. Patah kali ini membuatku lebih hati-hati, lebih peduli terutama pada diri sendiri. 

Pelajaran apa yang kau ambil? Mana janjimu untuk memperbaiki dan tidak mengulang kesalahan? Nyatanya? Kau masih membuatnya patah. Lagi. 

Jika tak mau disebut ‘selalu’, sebut saja ‘sering’. 

Jangan seperti keledai.  Jatuh pada lubang yang sama. Mengajak yang lain untuk jatuh bersama. 

Kini Ramadhan datang, buktikan kau benar berjuang. Jaga diri sendiri, jaga milik sendiri. Jangan membuat patah. 

Kelak, akan ada yang lebih lembut menjagamu agar tidak patah. Bahkan sangat berhati-hati agar tidak retak. Menjaga dengan wibawa, bukan menyakiti tiba-tiba seakan tak sengaja. Yang berhenti berkata semua baik-baik saja, semua sudah biasa, semua sudah berlalu. Padahal, bukan hal remeh atau receh, ada patah yang tak kasat mata. 

Kini, biarkan patahmu pergi. Yakin, akan diganti (lagi). Kelak baikmu akan benar bermanfaat. Kelak pedulimu akan mendarat pada yang tepat. 

Nanti, jika ada pengganti aku mencoba berjanji. Untuk menggenggam dengan baik seperti ku genggam yang satu ini, ponselku kini (iya ga dilempar). Pokoknya, nanti kalau mama belikan aku kacamata lagi, bantu ingatkan kalau ketinggalan. Bantu jagain biar ga patah ya kawan-kawan.. Iya, dirantai kalo perlu biar gak j.a.t.u.h.

Diam, Ramaikan pada Penduduk Langit

Portofolio

Iya, aku tak sesedih tulisan-tulisanku. Tak pula sebahagia itu. 

Lagi pula, mereka bukanlah tulisan yang menyedihkan. Mereka tulisan yang menguatkan, hasil olah pikiran. Meski kadang terkesan arogan. 

Justru terkadang aku lupa pada apa saja yang pernah aku tulis. Semua kesedihan itu bersembunyi pada pada tumpukan naskah. Setelah pengaduan dengan Yang Maha Kuasa. 

Atau tentang cerita-cerita yang kau lihat aku menceritakannya dengan bahagia. Tentu bahagia, sedikit. Karena kutahu apa-apa hanya perlu secukupnya. Kadang itu hanya untuk mencari respons yang sesuai mauku. Hahaha. Kebanyakan berhasil. 

Tapi tidak, semua tidak seperti yang kalian lihat. Semua tidak seperti apa yang kalian dengar atau baca. Tidak. 

Kini waktunya aku menjaganya, dan kalian menjaga mereka. 

Dengan hanya bercerita pada Sang Pencipta. Bukan dengan ciptaannya. 

Jagalah dia, jaga kehormatannya. Mungkin saja kelak dia benar-benar menjadi pendamping hidup kalian. Sehingga kalian aman, karena sudah belajar menjaga kehormatannya mulai dari sekarang. 

Jagalah dia, meski dulu kau tak disuka karena banyak bicara. Berubahlah meski kau tak bisa berharap dia ikut merubah rasanya. 

Jagalah mereka, bahagiakan mereka dalam diam. 

Diam. Aku bilang diam. Ramaikan penduduk langit saja. Diam untuk para penduduk bumi. Oke? 

Hug

Portofolio

Aku juga pengen banget dipeluk..

Biar apa? 

Biar lega :’D

Tapi siapa yang mau meluk? 

Ga ada… Tapi aku beneran pengenn banget. Kayak dulu suka dipeluk ayah. 

Yaudah, semoga segera ya ada yang memelukmu erat. Melepaskan segala kekhawatiran dan kesedihan yang selama ini kau rasa. 

Ahahaha, iyaaa. Aamiin.