Hampa

Portofolio

Selepas shalat Isya dan masih duduk di atas sajadah. Cukup hanya dengan melihat wajahnya yang tertidur pulas di atas kasur. Rambut lepek, badannya bau keringat. Kugerakan tangan ini mengelus kepalanya. Menatap dalam-dalam wajahnya yang kelelahan. Pipinya lucu, wkwk. Ku kecup kening lelah itu, sambil memejamkan mata dan merasakan dalam hati.

Ah, dia. Yang tiada pernah ku sangka.

Ssst, dia tidak tahu. Bukan karena dia sedang tidur, bukan karena kecupanku yang terlalu lembut.

Sore ini, dia terlihat cemas. Terdiam meringkuk di pojok kasur. Mulai lagi kupikir. Kuhampiri dirinya kemudian duduk di sebelahnya, ingin kupeluk erat sebenarnya, namun kugenggam saja tangannya. Kusandarkan kepalaku pada bahunya. Lalu aku berkata “ada apa? Ayo cerita”. Tiga kali ku bertanya, dia tak menjawab.

Ah, dia. Yang semakin biasa aku menghadapinya.

Ssst, dia tidak tahu. Bukan karena dia tertidur saat meringkuk, bukan karena bisikku yang terlalu lembut.

Kalian tahu karena apa?

Karena memang yang aku elus hanya hampa. Yang kukecup hanya hampa. Yang kutatap juga hampa. Apalagi yang kugenggam dan kuajak bicara. Namun, terasa nyata. Membentuk pola yang bermodal ingatan seadanya. Sempurna sakitnya. Jadi, dia tak akan pernah tahu. Dia siapa aku pun tak tahu. 

Iya, aku apa? Aku siapa? Aku wanita biasa yang hanya bisa bermain dengan hampa.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s