Bung

Hope, Message, Portofolio

Sudah bagus kau pergi,  bung. Mestinya tidak ada alasan untuk kau kembali. Kecuali hanya untuk menghancurkan tabir-tabir hati ini untuk kutata lagi.

Sudah benar kau pergi,  bung. Meski dengan alasan kau berusaha memperbaiki dan menjadikan yang lalu itu sebagai pelajaran. Tetap saja rasa itu kembali berkejar-kejaran, mereka lupa jalan pulang.

Aku ingin menjadi baik, tanpa perlu jantung itu merasa sesak, dalam makna positif maupun negatif.

Aku ingin peduli, tanpa bangun pagi yang teringat lagi, lagi dan lagi.

Aku ingin membantu, tanpa ada rasa ragu, tanpa berpikir ini itu.

Sayangnya, semua itu, aku belum mampu.

Dulu.

Sekarang beda lagi bung, semua ini mengajarkanku kemudian aku terbiasa. Kau yang memampukanku dan sebaliknya. Yang hakiki?  Allah memampukan kita. Untuk apa? Memberi jarak, bukan hanya dalam satuan meter, namun jarak pikiran dan juga hati.

Sekarang beda lagi bung, mari berjalan masing-masing. Tanpa takut kesepian dan merinding. Kau temukan yang tepat untukmu, ku temukan yang tepat untukku. Atau mereka yang akan menemui kita. Atau jangan-jangan…. Jangan menduga, bung. Kau takut, kan?

Hai para wanita, mintalah maaf untuk kau yang pernah berpikir bahwa hanya kau yang terbaik untuknya, bahwa hanya kau yang mengerti mereka, bahwa hanya kau yang pantas menemaninya, bahwa hanya kau yang paling sabar.

Dimana Allah kau letakkan? Bukankah pada dasarnya yang mereka butuhkan hanya Allah? Allah lebih berhak untuknya. Dan kalian hanya kemudian-kemudian setelahnya? Ya ampun, mestinya kita malu.

Hai bung, lihatlah. Wanita itu, kemana saja kamu? Mereka dikirimkan Allah untuk melatih kepekaanmu. Namun apa yang kau lakukan pada mereka? Apa yang bisa kau balas dari pengorbanan mereka? Kenapa tak berusaha menjadi lebih baik minimal contoh kebaikan mereka? Dan bayar itu semua dengan menjemput mereka. Sulitkah, bung?

Hai para wanita, ku yakin sabarmu tiada terhingga. Bahkan hingga langit menjingga saat senja. Matahari ibarat tenggelam dari tempat kalian berkata.

Esok, matahari itu akan datang menjemputmu dengan sinarnya. Matahari yang sama. Jika malamnya mendung tiba.

Namun, apabila mendung tidak datang malam itu. Matahari mestinya sudah siap jika bulan menjemputmu duluan. Membawa janji kebahagiaan. Mengabulkan angan yang pernah jadi cobaan.

Hai para wanita, berdoa. Tahu kan kalau itu senjata?

Eh bung, apa? Kau berdoa juga lah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s