Aku, Museum itu

Cerpen, Message, Portofolio

“Kurasa benar, jika hanya tentangmu aku bisa mengurai lengkap sebuah kisah. Seperti sepotong kalimat yang hanya membutuhkan koma tanpa titik. Seperti buku dengan halaman yang tak terbatas. Seperti kisah kita dulu, tanpa takut akan masa depan.”
-Adelia

Seseorang pernah bertanya bagaimana caranya aku melupakanmu. Jangankan untuk dia yang bertanya, aku pun belum berhasil menjawab untuk diriku sendiri. Sungguh, kalau ada yang menjual kunci jawaban dari pertanyaan itu. Berapa pun harganya akan kubeli. Tapi demi sebuah kejujuran, aku lebih memilih mencari jawabannya sendiri.

Lagi pula, bagaimana bisa aku melupakanmu?

Seseorang pernah bertanya bagaimana bisa aku menyukaimu. Jawabannya, hm, aku tidak menyukaimu. Sampai saat kau pergi, aku tidak pernah memutuskan untuk itu. Lantas mengapa sampai begini? Nyatanya, sayang itu memang tak perlu lebih dulu terucap suka. Karena kau tahu apa yang lebih menyeramkan dari dibuat suka? Ya, dibuat sayang. Ew, terdengar menggelikan.

Menyayangi seseorang tak perlu melihat kesempurnaan, mereka yang bertanya apa bagusnya kamu tak menyadari bahwa sayangku justru karena kurangnya kamu. Apakah orang tua yang menyayangi anaknya dengan ketidaksempurnaan fisik atau mental perlu ditanya apa bagusnya anak mereka sehingga mereka bisa sayang? Tidak, karena itu anak mereka. Ya, bagiku, menyayangi seorang teman tidak jauh beda. Kau hanya perlu menerima mereka apa adanya dengan uniknya mereka. Perlahan memperbaiki dan mau juga untuk diperbaiki.

Hey. 

Mungkin kau tak pernah berencana membangun sebuah museum tentangmu. Tapi, cobalah berkunjung kemari, ke rumahku. Aku akan mengajakmu berkeliling di ruangan yang menjadi tempat pameran tetap hal-hal yang patut mendapat perhatianku. Kau dapat melihat di dindingnya tertulis jelas namamu, juga pada halaman buku-bukuku. Atau dalam folder komputer jinjingku. Pada desain-desainku, ada juga arsip-arsip percakapan masa lalu. Bahkan yang kini ku genggam selalu, ponsel ini. Atau yang ingin bisa kubaca dalam banyak waktu (ini mestinya yang lebih sering ku genggam).

Dan yang paling gemilang, pada diriku. Akulah, museum berjalanmu. Aku, museum itu.

Ya, ampun. Aku museum….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s