Bolehkan Aku Memeluk Erat, Alfonso? 

Cerpen, Portofolio

Kemudian aku masuk dan menutup pagar, mengintip rodamu berlalu pulang. Menitip dirimu pada Yang Maha Penyayang. Rindu, hati-hati di jalan.

Kalau sudah rindu, berat. Tapi tak apa, kita memang harus rehat dari maksiat untuk taat. Balasannya akan datang di waktu yang tepat. Jika kamu bisa tahan, kamu termasuk orang hebat. Iya, ketika ada 1000 jalan untuk bermaksiat, demi ridha Allah kau lillah untuk taat. Kau, hebatku. Kelak, kau penguat taatku. 


Segera kuhampiri dirimu yang masih duduk di atas motor. Malam itu kau sudah di depan rumahku untuk mengambil beberapa buku bahasa Arab milik Gatra yang kupinjam.  Kurasa kau mulai serius belajar bahasa Arab. Seperti biasanya, pandanganmu selalu tunduk, tak mau menatap. Tapi kulihat ada yang berbeda. Terlukis guratan kelelahan lengkap dengan peluh pada wajahmu.

Kalau aku tidak salah, dan biasanya aku memang benar. Dapat kulihat bahwa bukan hanya tubuhmu saja yang sedang tidak beres, namun hati dan pikiranmu juga. Wajahmu memancarkan beberapa sinyal yang sukses membangkitkan naluri afeksi dan kepedulian wanita di dekatmu. Aku. Ah, aku bukan siapa-siapa.

Ku minta kau masuk hanya sampai teras rumah, memilih buku yang kau mau. Walau akhirnya kau ke dalam juga untuk melihat buku-buku di rak. Setelah kau ambil buku-buku yang ku tawarkan, kau pamit pulang. Aku antar ke depan rumah, sekalian jajan di ucok. Kembalinya dari ucok, ternyata kau belum beranjak pulang. Terbenam muram dalam ponsel pintarmu di atas setir motormu.

Ah, aku tidak bisa melihatmu lama-lama. Setiap lirikan mesti ku iringi dengan istighfar.

Tapi…. Kau tahu apa yang kubayangkan saat itu?

Haha, menulisnya saja aku malu. Baiklah. 

Ya…. Ku bayangkan mengelus kepalamu sambil bertanya,

“Fo? Apa dirimu baik-baik saja? Kau sakit? Ada apa? Coba cerita,”

Namun, untuk apa pertanyaan itu ku lontarkan? Kalaupun kau benar-benar sakit dan punya keluhan, aku bisa apa? Aku saja tidak boleh berada terlalu dekat denganmu, apalagi sampai berada di sebelahmu lalu melakukan itu.

Haram. Hee..

Kemudian aku masuk dan menutup pagar, mengintip rodamu berlalu pulang. Menitip dirimu pada Yang Maha Penyayang. Rindu, hati-hati di jalan.

Sebenarnya sih, kalau boleh pun aku akan memelukmu erat, Alfonso. Dengan dampak ekstrim yang paling efektif dari sebuah pelukan, membantumu menyembuhkan rasa sakit, kesepian, stres dan lain-lainmu itu. Perlahan pun aku akan sembuh. Aku dan kamu menjadi utuh. 

***

Sekarang, aku siap untuk itu.

Setelah sepotong kalimat yang merubah segalanya terucap, aku siap memelukmu erat.

Karena itu yang selalu menjadi impianku.

Memelukmu.

Pun mendapatkan pelukan erat darimu.

Di setiap pagi dan malam kita, tawa juga tangis. Atau peluk yang dapat membunuh rindu siang itu. Kapan saja kau mau. Aku siap untuk itu.

Setelah ini, Fo. Sebentar lagi… Iyaak!

“…. dibayar, tunai!”

“Sah?” “Sah!”

” ya Allaah, sah TT”

Dan seketika tangis bahagiaku tumpah. Jangan lagi takut karena selalu salah. Sejak awal, salahmu pun kuanggap mewah.

Dan semuanya berubah menjadi semakin indah, dengan antrian amanah, kita mulai lagi sebuah kisah setelah sah.

Sekarang, bolehkan aku memelukmu erat, Alfonso? :’

***

#INTERMEZZOPART

“Mira… Nanti lagi ya peluknya, itu diliatin tamu…. Salam-salaman dulu yuk, abis ini kan di sini jadi tempat ikhwan.”

“Dih, kamu yang dari tadi gamau lepas kocag. Liat tangan aku udah turun.”

“Eh, iya. Hehe, maaf ya.”

“Ish, haha hehe 😒”

***

Yow, yow, yoww all the readers! Het, geli ya? Jangan baper bacanya. Yang nulis saja wanna cry loh. Hahaha. Kalian sudah siap? Yuk bersiap! Fokus karena Allah. Sabar ya, akan ada nanti di waktu yang tepat ketika sudah siap. Pertimbangkan baik-baik, persiapkan baik-baik, belajar terus. Bekali diri dengan ilmu yang bermanfaat, siapkan mental juga. Pokoknya tau-tau siap aja. Sampai nanti dapat ucapan selamat berbuka puasa.

Ketika cinta kita untuk Allah, maka Allah akan menghadirkan cinta pula untuk kita kepada dia. :’) Cintai Allah first, sob. Biar nanti, siapa saja yang datang ketika siap. Kita siap. Kalau semuanya udah karena Allah mah gampang weh. 

Eh dan nanti, kalau sudah menikah saya gak lagi ya post-post cerita beginian, meski saya suka banget cerita. Nanti dzalim sama yang belum nikah, pula jadi menebar kemesraan. Cukup kisah indah itu saya dan suami saja yang menikmati. Kalian nanti akan merasakannya sendiri. Doakan saya kawan-kawan. Sebagai istri saya mesti banget menjaga suami saya, bahkan dari sebelum menikah. Jaga kehormatan semuanya, siapa tahu jadi siapa-siapa. Mungkin hanya cerita dengan ibrah dan bermanfaat tanpa ada unsur yang privasi yang bisa saya share, itu juga ga janji. Hoho.

 

Terus semangat, ya! *sambil nyemangatin diri sendiri yang lagi banyak UAS padahal udah mepet lebaran malah lanjutin ngetik beginian TT*

:v

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s