Mereka Ada Bersama Kita

Mental Illness, Portofolio, Thought

Tulisan ini akan menjadi sangat panjang. Jadi siapkan mental. Jangan malas duluan. In syaa Allaah this is worth to read.

#1

Daun-daun terus berguguran, semakin menumpuk menutupi halaman. Sesekali tetangga-tetangga bantu menyapunya.

Debu-debu juga tak mau kalah, menyelimuti etalase toko depan rumahnya. Jarang sekali pembeli datang jika bukan tanpa keterpaksaan. Uang kembalian bisa sangat lebih atau sangat kurang.

Jangan tanya kondisi di dalam rumah. Hanya dia di sana hidup seorang, meski keluarganya sangat berkecukupan, lebih bahkan. Namun rumahnya selalu sepi, terus sepi.

Tanpa tawa, dia hanya terduduk dengan tatapan hampa.

Meski dulu ada yang menemani harinya, namun dipisahkan begitu saja.

Bau, iya dia bau. Mandi? Buang air? Entahlah. Intinya bau.

Tidak memilih untuk berbicara dengannya jika ia tidak pakai alat bantu dengar. Karena urusannya bisa panjang.

Anak-anak kecil banyak yang mencandainya, tak jarang membully, kudengar sampai ada yang membuat lelucon menggunakan fotonya.

Bayangkan, bagaimana saat lebaran datang? Apa yang dia rasakan? Sendirian. Kesepian.

“Kang, mendengar ceritamu, aku penasaran bagaimana dengan orang sepertimu aku berhadapan. Apa aku harus takut? Atau jangan-jangan ketakutanku dikalahkan oleh penasaran?”

***

#2

Dia hanya mampu berteriak sendiri, dalam pikirannya sendiri. Semua semakin nyeri. Ada banyak aksara yang tidak tersampaikan. Dia cemas, semakin cemas. Sebenarnya dia tidak bisa tenang sebelum semua jelas. Orang bilang dia suka memperbesar masalah, padahal dia hanya terusik dengan omongan-omongan kecil orang-orang di sekitarnya. Kemudian dia kembali hanya mampu menangis sendiri.

Aksara-aksara itu berputar di kepala, menuntut kebebasan.

Dokter bilang dia harus mengeluarkan kecemasan-kecemasannya. Kemudian mulailah dia. Tapi sekarang, orang-orang menganggapnya terlalu kasar dalam beraksara. Bahkan kadang menganggu kondisi mental orang-orang di sekitarnya. Apalagi jika dia bersinggungan dengan orang yang sama-sama mempunyai potensi gangguan. Tidak, kau bukan monster! 

Katanya dia punya teman, tapi hanya dia yang bisa lihat. Lelaki putih dan tampan. 

Bagi yang tidak tahu, mungkin akan menganggapnya aneh, mengapa dia begitu menyebalkan, keras kepala, blak-blakan atau semacamnya. Tapi ternyata mereka tidak tahu apa-apa. Ada alasan dibalik itu semua.

Dia hanya tidak ingin kembali seperti dulu. Dia yang masa lalunya tidak kita tahu.

“Hai, maaf aku tidak banyak tahu tentangmu. Tapi sekarang aku punya jawaban untuk melegakan dan membersihkan kejelekkan pikiran dan hati ketika aku berusaha bertahan. Dan semua-semua itu membuatku semakin ingin bertahan tanpa alasan aku kesal dengan kau yang sekarang. Dan dugaanku benar, bahwa kau begini sekarang karena ada sebabnya. Iya, aku pernah menduganya.”

***

#3

Sepanjang jalan dia menggengam cutter di tangan. Untuk menusuk orang jahat yang mengikutinya dia bilang. Tidak, orang jahat itu tidak ada. Ada wanita yang melihatnya sinis dia bilang. Tapi tidak ada siapa-siapa. Hanya dia dan tanda tanya.

Setengah hari ini dia tidak ingat apa yang telah dia lakukan, tidak sadar dia bilang. Sedang dimana tahu-tahu sudah tahiyat akhir shalat. Jadi imam, membuat seluruh jamaah bergumam karena Qulhu saja berantakan.

Berisik katanya, sekarang sudah bukan sekedar berbisik, nyanyian-nyanyian itu berisik. Padahal tidak ada yang bersuara. Tidak ada yang berkata. Apa? Itu hanya sebuah kipas dengan kecepatan putar di nomor dua. Tapi dia terus menutup telinganya, kemudian berteriak-teriak hingga menangis. Berapa butir lagi yang harus dia minum? Obat-obatan ini benar-benar membuatnya lemas, hanya tidur dan tidur.

Dia takut, siapa yang mau menikahinya jika dia seperti ini adanya.

“Hai, aku bangga aku mengenalmu yang baru. Yang sudah sembuh total dari semua itu. Kemudian kita bisa berbagi dan berdiskusi tentang banyak hal. Dan masih menyisakann kekonyolan untuk intermezzo dari lelahnya pelik kehidupan. Meski tidak banyak, percayalah, kau selalu menginspirasi. Sekarang aku yakin benar, kau bisa menikah dengan dia yang terbaik. Siapa pula yang tak mau?”

***

#4

Semua berjalan seperti biasa, hingga tiba-tiba dia tertawa, sesaat kemudian dia menangis. Lalu dia tertawa lagi, menangis lagi. Terus begitu selama beberapa saat. Sampai dia sadar, bahwa dia sedang berada di sebuah rapat. Ah, ini yang keberapa kali dia kambuh di depan umum. Dia malu, dia malu.

Karena limit menampung membuat jiwanya terapung.

Tugas ini belum, tugas ini susah, tugas ini salah. Terlalu banyak. Dia bingung mengapa dia begitu.

Tetangga berdatangan, mendengarnya tertawa, menangis, tertawa, menangis lagi. Cerita saja mereka bilang. Ah, mereka tidak mengerti. Dirinya juga.

Bahkan dia bilang bahwa terkadang tahu akan masa depan. Siapa artis yang akan menikah, siapa artis yang akan cerai. Dia bingung mengapa dia begitu.

“Hai, masih sebatas itu aku mengenalmu. Tapi itu juga yang membuat kita semakin kenal. Bukan kenalanku kalau tidak bisa bertahan. Kapan saja kau butuh, jika aku sedang normal, aku selalu siap direpotkan.”

***

#5

Dia tidak ingin di rumah, tapi dia tidak tahu harus kemana. Batinnya menyerah. Dia lelah dibandingkan, dia lelah dituntut seperti robot. Dia bukan boneka. Pukul, guyur, kunci, masa lalu yang dia benci karena membuatnya begini. Anak kecil itu butuh diperhatikan dan disayang. Bukannya diperlakukan lebih buruk dari hewan.

Entah sudah berapa kali dia menyakiti diri sendiri. Tapi ayah ibunya tidak paham bahwa di dalam dirinya lebih menyeramkan. Tidak berguna dia hidup katanya. Bermain peran untuk membuat mereka senang, padahal sudah tidak nyaman.

Pak, bu, dia hanya butuh didengar. Bukan diabaikan.

Bahkan dia sudah tidak mulai percaya Tuhan. Shalatnya bolong tak karuan. Privasi dengan Tuhan sudah hilang katanya di rumah. Berharap kecelakaan agar tidak pulang, itu yang lebih dia inginkan. Syukur masih bisa survive sendirian. Tapi lagi-lagi dia hanya bisa menangis diam-diam.

“Hai, kawan. Kau tahu aku sayang. Maaf ketika raga tak bisa bersama untuk bertukar aksara. Maaf ketika aku tidak menawarkan perjumpaan ketika kau ingin kabur sendirian. Tolong, percayalah sepenuhnya pada Tuhan. Allaah, sayang. Allaah. Kelak semua akan tergantikan, segera kau akan disembuhkan.”

***

#6

Wajahnya semakin lusuh, ada yang hilang di sana. Atau belum ada yang menghidupi. Pernah pada satu masa ketika kurang dari sepuluh orang yang dia anggap teman. Aku di antara sepuluh itu. Dia hanya orang baru bagiku, namun, bersamaku dia mampu menceritakan banyak hal tentang dirinya. Seperti orang yang tidak pernah bercerita apapun ke siapapun sebelumnya.

Kecil dulu suka dibully dia bilang, bahkan sampai sekarang. Semakin lama membuatnya semakin ingin nonjok orang karena perilaku mereka memperburuk keadaan.

Ah, lagi-lagi dia menangis meringkuk di pojok kamar. Yang dia rindu hanya sang bunda yang menenangkan. Tapi apa daya, semakin besar dia semakin sering sendirian. Yang dia rindu hanya sebuah pelukan, atau panggilan sayang dari ayah tersayang. Juga perjumpaan dengan semua keluarganya di meja makan saat lebaran.

Terkadang semua dia anggap negatif, terkadang angkuh atau pede berlebihan. Terkadang dia begitu pesimis, dia terlalu takut. Malam-malamnya menjadi begitu panjang. Siangnya pusing karena baru bisa tidur beberapa jam belakangan. Ilusi. Sepi. Sendiri.

Lalu dia akan terjebak pada masalah yang sama, lagi dan lagi.

Apa yang membuat teman-temannya tidak bisa bertahan? Suka bertindak di luar dugaan sehingga semuanya kewalahan? Terkadang dia tak mengerti mengapa bisa membuat nangis anak orang. Tidak sadar dia bilang. Apa juga yang membuat temannya itu bertahan? Ketulusan mereka bilang. Anggap saja berteman tidak pakai perhitungan.

Dia terkadang tidak suka keramaian yang tidak berguna, atau sekedar menjadi pemula untuk menyapa. Bagaimana caranya punya teman dia bilang. Dia iri pada mereka yang punya banyak teman, mudah berteman. Semesta menyarankan syukuri saja satu dua yang kau punya, dia (semesta) sudah menjamin mereka setia.

Dia tidak kenapa-kenapa, hanya tidak banyak yang mengerti dia. Tidak banyak yang membuatnya nyaman. Juga mungkin memang dari dirinya yang nethink duluan.

Dia bilang dia butuh obat, tapi aku rasa dia lebih butuh taubat.

Dia bilang dia butuh obat, tapi aku rasa dia lebih butuh teman

Dia hanya butuh seseorang yang membuatnya nyaman.

Dia hanya butuh seseorang yang kuat dengan dia berteman.

Kemudian dia terbayang beberapa pertanyaan.

“Aku ingin sembuh. Apa aku bisa sembuh? Apa aku bisa menikah? Tolong jawab.”

Iya, aku juga ingin kamu sembuh. Kamu bisa sembuh dan kamu bisa menikah.

“Hai kamu, aku yakin kamu sedang berjuang menjadi kamu yang baru. Percaya saja. Kisah hidup yang kelabu akan diganti dengan keindahan yang mengharu biru. Semakin beriman, in syaa Allah kau akan semakin banyak teman. Kamu. Iya, kamu bisa sembuh. Dan kamu bisa menikah. Kamu juga bisa jadi pengusaha luar biasa. Semangat selalu untuk sembuh, kalau perlu menjadi penyembuh. Salam dariku, salam… Hei, kau benar sakit jika kau bilang kau tidak sakit. Kau benar sakit jika dia telak kau buat sakit. Terimakasih sudah membuatku jadi bermanfaat. Sygny. Hidup ini terlalu singkat untuk memanfaatkan org lain. 
Sementara bagi yang dimanfaatkan, singkatnya hidup adalah ladang terbaik untuk jadi bermanfaat meski dalam bentuk “dimanfaatkan”.  🙂 ”

***

#7

Dulu. Mungkin orang-orang melihatnya krisis akhlak, atau sebut saja dia baru hijrah. Karena perilaku dan perkataannya banyak yang melanggar batas kewajaran. Kelakuan tidak sesuai penampilan, kemudian menggugurkan ekspektasi. Saat keramaian dia bisa sangat super ekspresif, super agresif, super hiperaktif. Iya, dia tidak bisa diam. Argh, dia pun tidak sadar. “Ente akhwat,” ucap seseorang.

Di lain waktu dia akan sangat tidak menyukai keramaian atau orang-orang. Kalau dipaksakan, dia tidak akan semudah itu berperilaku baik. Kemudian dia hanya memilih diam menikmati kesendirian. Dia suka itu, ketika tidak diganggu. Itu waktu dia menyiapkan tenaga baru. Jadi jangan heran, jika sedang berada di keramaian, dia tiba-tiba minggir untuk menyendiri.

Hei, lihat. Apa saja yang ada di tangannya bisa tiba-tiba dia lempar, teman-temannya bersyukur mereka bukan menjadi barang milik dia. Destruktif sekali. Kemudian dia akan sangat asik dengan pulpen-pulpen uniknya. Rokok, kamera, layar laptop, sepatu, kacamata. Semua ada bekas coretannya. Atau dibuatnya suara-suara lucu saat yang lain diam. Wanita aneh, wanita aneh. Hanya satu-satunya mereka bilang. Unik bukan?

Kemudian di satu perkumpulan, dia akan terus bergerak dan bergerak. Di depan dosen pembimbing baru kawannya bilang, “jangan kambuh, jangan kambuh.” “Untung tadi lu ga kambuh.” Meski setelahnya dia ‘kambuh’. Atau ada saja yang bilang “kamu belum minum obat ya?”. Apa? Dia pun tak tahu dia kenapa.

Dia dapat membuat orang tertawa bahagia begitu saja, sampai baginya semua terasa berlebihan. Mereka  akan memegang tangannya agar dia diam, atau mengatakan “kontrol, kontrol,”. Kemudian dia menyesal karena out off control seharian. Dia tidak tahu dia kenapa. Hanya ingin melakban mulutnya saja.

Dia suka melipat kakinya di bangku, bukan karena dia tidak sopan. Posisi itu yang membuatnya nyaman. Iya, kakinya gelisah. Dia sangat suka berlari dan loncat-loncat kesana kemari. Ketika seluruh maba fakultas keracunan misal, dari sekret hingga posko dia sangat gesit berlari. Pijak sana pijak sini. Atau saat mengumpulkan tugas. “Awas kesandung, awas jatuh,” mereka bilang.

Dia yang ingatan jangka pendeknya kurang, tapi bagus untuk jangka panjang. Kemudian teman-temannya membantu menjaga barang-barang yang dia punya ketika dia mulai banyak kehilangan barang. Dia yang ingin menyapa namun selalu lupa nama, kemudian malu mereka masih mengingat dirinya.

Ah, dia tidak malas, dia tidak bodoh. Bahkan waktu-waktu menunjukkan dia lebih dari cerdas. Dia hanya tidak bisa fokus apabila yang dia hadapi tidak benar-benar menarik. Tapi kalian tahu bagaimana kemudian dia bisa menjadi sangat antusias pada banyak hal. Dan dia bisa menjadi hiperfokus pada sesuatu yang dia sukai. Tidak berani mengganggunya bukan?

Lihat bagaimana caranya berbicara sambil menyelami pikiran. Dia seorang pencerita ulung juga pendengar baik yang super duper nyaman. Diskusi, ah, kau bisa mengambil banyak darinya. Karena dia juga mau belajar banyak. Dia salah satu yang terbaik jika kamu baru kenal, namun ingin menjadikannya teman diskusi yang baik. Dia juga tidak bisa melihat teman-temannya bersedih, atau dijahati teman yang lain, tidak suka melihat temannya merasa sendiri.

Yang kenal bertahun-tahun dengan dia akan bilang “gak kaget”, “sudah biasa”, “hahaha”. Dia hanya sangat bersyukur memiliki sekelompok teman yang sangat memaklumi dia, yang tidak meninggalkan bahkan ketika dia dengan cepatnya berubah. Dia juga sangat ingin memperkenalkan sekelompok teman-temannya ini pada teman lain yang dia tahu kesepian. Bahwa masih ada manusia yang tulus berteman tanpa banyak permintaan melainkan penerimaan. Mereka teman-teman yang hebat.

Dia ingin normal, dia ingin jadi baik. Jangan katakan bahwa dia tidak sedang berjuang sampai kau larang anak orang untuk berkawan dengan dia. Apakah untuk orang sepertinya, normal menjadi relatif?

Tapi kita tak tahu bagaimana dibaliknya. Perihal tangis dibalik senyum manis meski yang terlihat hanya mata segaris. Perilah teriakan yang dia benci yang membuat dia bisa berteriak lebih kencang. Perihal dia berjuang menjalani keseharian ketika mental sedang terguncang kemudian moodnya berubah tanpa kompromi pada keadaan. Perihal merindu ketika baru ditinggal, dan dinding-dinding putih baginya sangat menyeramkan.

Ah, dia hanya berharap untuk bisa berhenti memikirkan yang tidak perlu. Yang membuat kepalanya semakin sakit. Membuat dirinya semakin cemas, tapi dia bilang, pikiran-pikiran dan ide-ide itu selalu tiba-tiba berdatangan.

Atau mengenai apapun yang dia tuliskan, ketika dia tidak cukup baik untuk mengatakan. Nikmati saja setiap aksara yang ada.

“Hai, yahaha. Kamu lagi. Mereka tahu siapa kamu.”

***

*Selain cerita pertama, sisanya mereka masih terlihat seperti manusia normal biasa.

#1 Itu tadi adalah kondisi seorang laki-laki berusia 30an di satu daerah di Garut. Entah sejak kapan akang ini mempunyai gangguan mental dan apa jenis kelainannya. Orang-orang bilang dia dibuang oleh keluarganya, alias tidak tinggal bersama, jadi tidak benar-benar dibuang. Orang tuanya pensiunan Pertamina, lanjut jadi Lurah. Keluarga mampu sebenarnya, sampai laki-laki itu dibuatkan rumah di sudut jalan. Dulu diberikan usaha warnet sampai berubah menajdi usaha warung biasa. Dibiarkan tinggal sendirian. Tidak ada perawatan dari caregiver atau pengobatan ke psikiater, dsb.

Dulu sempat akang ini dinikahkan dengan seorang perempuan, namun mereka berdua sama-sama punya penyakit mental. Meski sepertinya lebih berwarna hidupnya karena setiap hari ada teman bersama. Duduk di teras rumah atau menjaga toko berdua. Kedua belah pihak keluarga menganggap pernikahan ini tiada guna, tidak ada kemajuan, hanya menambah beban. Akhirnya mereka berdua diceraikan.

Sayang sekali ya.

#2 Gadis ini terkena Anxiety Disorder. Sekarang sudah lebih baik. Jika mau tahu alasan dia begitu to the point, ya itulah sebagian masa lalunya.

#3 Yang satu ini, Skizofrenia Paranoid. Alhamdulillah sudah sembuh total. Tidak ada halusinasi atau bisikan-bisikan lagi. Tidak ada obat-obatan lagi! Hahahaha.

#4 Gadis ini belum memeriksakan dirinya ke dokter. Aku ga berani nebak apa-apa.

#5 Kalau yang ini, dia lelah sama orangtuanya seperti yang saya bilang di cerita.

#6 Dia, belum memeriksakan kondisinya. Mungkin depresi entah pada tingkat apa.

#7 Wah…. kalau yang ini, gatau deh. Nano-nano. Wkwkw.

Hai readers, di sini saya baru menyapa kalian. Awalnya saya hanya ingin menulis kasus yang pertama saja. Namun sepertinya cukup menarik jika kasus-kasus yang lain saya kompilasikan.

Gangguan mental sebenarnya sama dengan dengan sakit fisik, sama-sama sakit, bahkan terkadang dikatakan bahwa sakit mental lebih berat dari penyakit fisik. Nyatanya, sebagian besar masyarakat lebih bersimpati pada penyakit fisik dibanding penyakit mental. Tanpa menyadari juga, apa-apa yang mereka lakukan pada orang lain dapat memengaruhi mental orang tersebut. Jadi mereka santai saja berbicara, bercanda, mengejek dan sebagainya. Selalu miris apabila saya melihat seseorang bermudah-mudahan melakukan hal tersebut.

Padahal orang dengan gangguan mental sama sakitnya, mesti diobati, diterapi, ditemani dan disemangati. Sayangnya, belum banyak yang paham perihal penanganan orang dengan gangguan mental. Tahunya dia aneh, gila, gak jelas, baper, kasar, apapun lah labelingnya. Seperti kisah #1 di atas, si akang malah dibiarkan hidup terpisah, tidak dilakukan penanganan segera dengan menganggap bahwa “dia berbeda”.

Jika memungkinkan, seorang yang sedang terkena gangguan mental dapat memberikan pengertian pada orang-orang di sekitarnya. Bahwa apabila saya seperti ini tiba-tiba, berarti saya sedang kambuh misal. Atau saya sakit ini. Sehingga mereka bisa paham atau baiknya lagi bisa membantu dirinya berjuang. Syukur kalau teman-temannya pengertian.

Tapi terkadang tidak banyak yang bisa dilakukan, terlanjur depresi misal, lalu orang-orang sekitar malah makin ngeselin, meremehkan, lagak superiornya kadang bikin orang semakin hancur. Apakah dengan bilang kita depresi lantas kawan kita akan peduli? Atau jangan-jangan mereka sendiri tidak memahami arti depresi itu apa seperti saya dulu? Ah stres biasa kali. Dududu, sini-sini baca ya.

Banyak juga yang malu ketika anggota keluarganya punya gangguan mental, kemudian lebih memilih untuk menyembunyikannya dari banyak orang. Sebenarnya, dia hanya takut terhadap respons teman-temannya. Terima atau tidak. Support atau ejek. Tahu apabila orang terdekat kita atau keluarganya mempunyai gangguan mental, mestinya kita bantu mereka minimal dengan dukungan. Bantu kalahkan stigma, hei, mereka berpotensi untuk sembuh. Ada Allah yang Maha Penyembuh. Jangan malah membuat mereka makin sakit karena kita ngatain dia atau keluarganya itu orang sakit. Itu tidak memperbaiki keadaan. Bahkan ada teman saya yang gemas mengatakan “yang sebenarnya sakit adalah yang mengatai mereka sakit,” hahaha.

Di lingkungan kampus saya, tentu masih terjadi pembullyan tingkat ringan sepertinya ya. Tergantung ketahanan mental tiap individunya. Meski yang oknum-oknum ini lakukan itu adalah candaan, tetap saja bagi saya itu tidak sopan. Dan tidak lucu, sama sekali. Bayangkan, di slide presentasi kelompok oknum ini terdapat foto editan wajah salah satu teman sekelas kami yang langganan dibully dengan jambul dibuat sangaaat panjang. Ah, saya marah. Receh. Katanya anak kuliahan, kok bercandaanya ga berwawasan, ya? Qodarullah saya yang diminta jadi operator saat itu, ketika tahu, teman-teman yang lainpun menyegerakan saya untuk menghapus foto tersebut. Kebayang kalau nanti si korban justru malah jadi bos mereka. Tahu rasa.

Saya sendiri? Masih oleh oknum yang sama ya cukup sering dibercandain. Karena apa yang saya pakai. Setiap mereka melihat saya, pasti mereka berpura-pura kaget, takut, dan semacamnya. Hadeuh, lama-lama bosen digituin. Ga ada yang lucu.

Saya pribadi tentu tidak luput dari pembullyan-pembullyan yang pernah saya lakukan sadar maupun tidak. Meski tidak seekstrim dan seniat itu, pasti ada perkataan dan perilaku yang pernah mengganggu kawan-kawan saya. Semoga  kita semua dimaafkan, dan kita juga mereka lekas mendapatkan hidayah taufik dari Allah ta’ala.

Ya, menjadi superior oke-oke saja. Asal jangan menindas. Bercandanya mesti berkelas.

Di sebuah komunitas Facebook yang saya sebagai anggota di dalamnya KPSI (Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia), ada seseorang bertanya apakah dia bisa sembuh dari Skizo Paranoidnya. Saya berkomentar “Bisa, kawan saya ada yang sembuh total. Nanti saya akan berbagi ceritanya bagaimana dia bisa sembuh,”. Membaca kisah mereka, keluh kesah, bagaimana mereka berjuang untuk diri sendiri juga keluarganya membuat saya terharu, sedih sekaligus salut membacanya. Ah, mereka hebat-hebat. Apalagi di kolom komentar, mereka akan saling support atau memberikan komentar lucu.

Nah, beberapa hari kemudian ketika sedang cek pesan masuk. Ternyata saya mempunyai satu permintaan pesan dari seorang ibu. Dia adalah ibu dari anak laki-laki penderita skizofrenia. Anaknya sudah lulus kuliah, wah, bagaimana dia bisa lulus? Ternyata ibu inilah yang mengerjakan skripsi anaknya. H-beberapa hari anaknya bisa memahami skripsi buatan ibunya sehingga lulus dengan nilai A. Sedihnya, sekarang anaknya hanya diam saja tidak melakukan apa-apa. Minum obatpun tidak mau, padahal rutin sebulan sekali ke dokter. Beliau bingung harus bagaimana. Ibu ini ingin tahu bagaimana kawan saya bisa sembuh, sayangnya saran yang saya berikan tidak bisa dia gunakan karena ibu ini menganut agama yang berbeda. Dia tidak berani memberitahu kawan-kawannya perihal gangguan yang diderita anaknya, ya, dia takut. Tapi dia senang sekali ketika saya mau mendengarkannya dan diajak diskusi bersama. Meski obrolan kami hanya terjadi pada satu hari itu saja. Saya ikut senang, juga karena bisa berbagi dengannya. Semoga ibu dan anaknya ini diberikan kemudahan, ya.

Begitulah kawan, mereka itu ada dan mungkin saja kita adalah mereka. Setiap orang memang punya potensi gangguan mental dengan kadar yang berbeda-beda. Bisa naik turun kapan saja. Buat kamu yang peduli juga pada mereka, ingin membantu mereka. Semangat selalu ya, perhatikan juga kondisi mentalmu. Jaga, dan kalau ada apa-apa yang bikin terguncang, anggap saja biasa, karena yang kau hadapi itu sedang sakit. Iya, mungkin yang kau hadapi itu sakitnya. Semangat berjuang menemani orang tersayang, semangat berjuang untuk kesehatan jiwa. Sering-seringlah lakukan pembersihan hati.

🙂 Salam sehat jiwa.

 

 

 

 

 

 

Ahhh, berlari di perbukitan kemudian berteriak lepas sepertinya melegakan :’)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s