Di Bawah Payung Langit

Portofolio

“Terkadang aku menangis karena takut akan matinya hati. Takut karena banyak tertawa. Takut tiba-tiba tidak bisa menangis lagi.

Aku menangis untuk kembali menghangatkan hati. 

Payahnya aku masih saja banyak tertawa padahal tahu setelah itu akan menangis meski tidak tahu akan menangisi apa. 

Nyatanya, ada saja penyebabnya. Dan memang harus menangis, agar tidak mati. 

Hai tawa, jangan sampai lebihmu membuatku menyesalimu. Maka dari itu, sampai saja pada batas cukup. 

Jika ada lebihnya, ku tahu kau membawa yang lain menyusul di belakangmu. Iya, tangis-tangis itu. 

Tapi terimakasih, jika aku masih bisa menangis. 

Aku hanya takut hatiku mati kemudian tangis terhenti.” – Clara, di bawah payung langit. 

Dia tutup buku itu, kemudian membalikkan tubuh terlentang di bawah bintang-bintang. Dengan bukunya dalam dekapan. Menarik napas panjang, dan mengeluarkannya penuh tekanan bersama beban. 

Malam yang dingin, Clara terbaring di atas genting. 

“langit yang selalu indah,” gumamnya. 

Airmatanya tumpah perlahan, meski malam itu dingin. Dia sedang berusaha menghangatkan hatinya. 

“ya Allah, maafkan aku.”  

Di bawah payung langit, dia bermuhasabah. 

Di bawah payung langit, salah satu tempat mewah. 

Setelah di atas sajadah. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s