A Little Letter to My Little Sister

Bilingual, Friendship, Portfolio, Portofolio

UNFINISHED

            I was on the third semester in campus. That means a new college year which was my campus (also my department) got so many freshman. In the middle of the first semester, every department are conducting an activity that we called “Ta’aruf”. It’s a mandatory event for the freshman to know each other from their department better, and my generation was became the committee. This event was held for three days and two nights.

Advertisements

Rumus Pertemanan

Friendship

Why do we always fight?
Katanya temen. Kok berantem mulu?

Katanya temen. Kok nyalah-nyalahin?
Kuat nemenin?

Betah ngeladenin?
Ga cape dengerin ceritanya mulu?

Ga cape ujung-ujungnya ribut?
Penetrasi yang paling sulit menurut saya itu pada tahap 1 dan 2. Saat berhasil sampai ke tahap akhir, ga kebayang bagaimana dulu bisa kenal dan gimana memulainya. Ga nyangka bisa sampai sini.
Nah, saat udah kenal. Pasti ada potensi-potensi depenetrasi. Kita harus punya cara untuk mempertahankan pertemanan kita, selama itu masih memungkinkan dan selagi Allah mengizinkan.

Kalau kita ga suka sama seseorang. Itu masalah kita, bukan masalah dia. Mungkin ada yang salah sama diri kita. Mungkin kita kurang memahami dan mengerti dia. Karena kita ga pernah tau apa yang sebenarnya dia hadapi. Dan kita tidak berhak untuk menghakimi. Jangan gampang nyuruh orang lain introspeksi tapi sendirinya enggak.
Kalau dia memang ditakdirkan untuk jadi teman kita, pasti dia kembali.
Masalah kecil yang masih terhitung konflik produktif, seharusnya ga perlu dibesar-besarkan. Selesaikan, karena kalian sudah sama-sama besar.

Jangan karena hal itu kau membuat teman mu merasa bersalah. Akhirnya lempar-lemparan masalah. Satunya minta dimengerti, satunya juga. Kata ‘maaf’ cuma jadi rangkaian alfabet semata. Kalau temen kamu marah, mungkin dia lagi lelah untuk terus mengerti kamu. Ga peka-peka untuk ngerti balik. Padahal, rumus pertemanan bukan kamu+aku= kamu, tapi kamu+aku= kita.

Kalau temen kamu bicarain hal itu terus, diulang-ulang sampai terlihat menyedihkan. Mungkin mereka benar-benar butuh solusi dan perhatian. Mungkin dengan membicarakannya bisa membuat dia nyaman. Tapi, hati-hati. Jangan terus ikuti arusnya, terhanyut angan sungguh membahayakan. Kamu harus membantunya menepi sejenak untuk membangun kapal yang lebih kuat. Agar nanti dia mampu berlayar sendiri, bahkan tanpa mu. Katakan bahwa arusnya deras, tapi dirinya pasti berhasil karena dirinya kuat.

Manusia, gak luput dari kesalahan. Yang penting bagaimana kita belajar dari kesalahan itu supaya makin kuat. Adanya masalah bukan untuk memisahkan kita, tapi sebagai ujian apakah pertemanan kita cukup kuat untuk naik tingkat.

#Teman