POLUSI

Conversation, Make it up, Portofolio

“Polusi!”

“Ya, aku memang polusi.”
“Aku akan lebih banyak menyuruhmu diam kali ini! Kekosongan dalam kalimatmu lebih menyesakkan daripada polusi di kota.”
“Gadis pedesaan sepertimu, apa yang kau tau tentang kota? Haha,” jawabnya dengan angkuh.
“Hey, aku pernah mengunjungi paman ku di pinggiran kota. Berlibur di sana membuatku muak, polusi di mana-mana. Pantas saja itu jadi masalah utama dan tidak heran jika orang-orangnya sepertimu.”
“Kau pikir dirimu bersih? Kami juga tak mau menerima orang desa yang bau kandang, ladang. Apalagi..”
“Diam! Mau kau bilang menyesalpun apa yang perlu ku percaya? Apa semua orang kota konyol sepertimu?”
“Ayolah, kita tidak sedang bertanding.”
“Kalau begitu mengapa kau ingin menang sendiri?”
“Karena pasti ada yang kalah dalam sebuah permainan, Dhena.”
“Oh, berarti aku yang akan menang di permainan selanjutnya. Hey, kau bilang kita tidak sedang bertanding?”
“Iya, kita hanya bermain.”
Tak perlu susah payah untuk menahan ekspresi di wajahku, karena kesombongannya tidak berdampak sedikit pun padaku.

***

“Lagi pula aku tidak akan mempermalukan diriku lagi, Emily. Jadi, lebih baik aku hanya mendengar ocehannya.”
“Kau terlalu berlebihan, tidak perlu bersikap dingin. Jangan bertingkah seperti anak kecil yang bodoh.”
“Ah, biarlah. Yang kutahu, tidak lebih dari setengah lusin orang yang dia anggap sebagai teman. Apa yang bisa dia banggakan dari setengah lusin itu jika salah satunya saja diperlakukan seperti ini?”
“Soal itu aku tidak tahu. Mungkin dia punya alasan sendiri. Aku tidak bisa mengungkapkan pendapat yang bukan milikku. Sudahlah Dhena, kau harus memaafkannya.”

Memaafkan seseorang tanpa diminta adalah bagian hidupku—setidaknya itu yang membuatku tetap hidup. Tapi, aku tidak ingin mereka bermudah-mudah dalam hal ini. Mereka hanya akan menjadi keledai yang mengulang-ulang kesalahannya. Dan aku tidak mau jadi objek kebodohan mereka. Maka dari itu, aku akan memaksa mereka untuk belajar.

***

“Jangan bilang kau masih berbicara dengannya?”
Aku terdiam.
“Berapa kali lagi perlu ku peringatkan padamu? Tidak usah meladeninya. Jika aku yang ada di posisimu, aku sudah membiarkannya sejak berbulan-bulan lalu. Kita itu berharga Dhena, jangan buat dirimu sendiri menjadi wanita yang bisa begitu saja diremehkan. Apa yang akan ibumu katakan jika kau bercerita padanya tentang hal ini? Aku tidak bertanggung jawab atas perasaanmu.”
“Aku tidak pernah memintamu untuk bertanggung jawab Ocea, aku sendiri yang melanggar peraturanku. Sungguh, tiada keberatan bagiku untuk melayani orang seperti dia. Entah, hanya saja aku belum merasakannya. Atau aku memang tidak pernah sadar kalau sedang dibuat kesal.”
“Kau ini bagaimana. Wanita itu seperti gelas-gelas kaca. Mereka mudah retak!”

“Ocea.. Hmm.. Bukankah kita seharusnya membela diri ya apabila kita tidak menerima perlakuan selayaknya? Seharusnya kita diperlakukan dengan hati-hati kan?”

“Tentu saja! Itu maksudku. Kita tak boleh begitu saja pasrah. Ih! Mengapa kau baru menyadarinya sekarang?”

“Iya Ocea.. Aku baru sadar.. Aku lupa aku wanita dan membiarkannya meremehkanku, aku lupa.”

“Dhena, tak apa. Jangan ulangi lagi. Kau harus lebih waspada. Oh Dhena, dirimu ini… Bilang lelah tapi tetap tabah, bilang jengah tapi pura-pura sumringah.”