Mendengar Untuk Belajar

Portofolio

Yow yow all the readers! Kaifa haaluk? Ana bikhayr!

So! One week ago, on friday saya ada bukber SD di SD saya. Berangkat dari Ciputat abis rusuh-rusuh UAS. Biasa, because the traffic was so crowded (rush hour friday on ramadhan bro). So I’m late~ setengah tujuh baru sampai komplek dimana SD saya berada.

Turun dari bus kp Rambutan-Bogor pake kesandung dulu (salah satu kebiasaan saya, kesandung). Then jalan kaki tuh, nah, pas di jembatan masuk komplek, ada dua remaja laki-laki dengan kemeja batik dan peci lagi smoking, dilihat dari postur dan wajahnya nampak bukan orang pulau sini (not rasis yak). Pas saya lewat, macam dilihatin. Terus mereka buang rokok mereka. Actually saya takut, because setelah itu saya merasa mereka mengikuti saya jalan.

Bolehkan Aku Memeluk Erat, Alfonso? 

Cerpen, Portofolio

Kemudian aku masuk dan menutup pagar, mengintip rodamu berlalu pulang. Menitip dirimu pada Yang Maha Penyayang. Rindu, hati-hati di jalan.

Kalau sudah rindu, berat. Tapi tak apa, kita memang harus rehat dari maksiat untuk taat. Balasannya akan datang di waktu yang tepat. Jika kamu bisa tahan, kamu termasuk orang hebat. Iya, ketika ada 1000 jalan untuk bermaksiat, demi ridha Allah kau lillah untuk taat. Kau, hebatku. Kelak, kau penguat taatku. 


Segera kuhampiri dirimu yang masih duduk di atas motor. Malam itu kau sudah di depan rumahku untuk mengambil beberapa buku bahasa Arab milik Gatra yang kupinjam.  Kurasa kau mulai serius belajar bahasa Arab. Seperti biasanya, pandanganmu selalu tunduk, tak mau menatap. Tapi kulihat ada yang berbeda. Terlukis guratan kelelahan lengkap dengan peluh pada wajahmu.

Dia minta maaf, aku minta eskrim 

Portofolio

Ini, cocok. 👌

Perempuan yang patah-hati, kemudian dia bisa mengobati lukanya (meski susah payah).

Maka dia tidak pernah sama lagi seperti yang dulu kita kenal. Dia telah berubah menjadi perempuan yang lebih tangguh, lebih kuat dan lebih mandiri.

Bukankah begitu? 🙂

*Tere Liye


Minta maaf itu mudah. Maaf sana, maaf sini, maaf di mana-mana.

Tapi berubah itu lebih sulit lagi. Dan inilah poin paling pentingnya.

Jadi, minta maaflah, lantas berubah. Itu baru kongkret. Karena ketahuilah, orang2 yang tidak berubah setelah minta maaf, boleh jadi tidak berhak atas kesempatan kedua. 

*Tere Liye



Aku mau cerita. Tentang maaf. 

Aku keren. Dia minta maaf, aku minta eskrim. 

Kok? Karena dia gaenak cuma bisa minta maaf. Aku bilang aku emang cuma pantes dapet maaf. Trus dia gatau aku maunya dapet apa. Aku bilang aku maunya eskrim. Dia tanya lagi mau apa. Aku jawab anak kucing. Katanya itu agak susah. Sate padang kataku. Udah itu aja? Kata dia. Helikopter, tambahku. Yang make sense dong, dia belum mampu katanya. Yasudah, kubilang itu saja cukup. 

Lalu satu hari, ketika semuanya hendak diakhiri, dia bilang jangan meminta padanya apa yang sudah pernah dia janjikan untuk dia beri. Baiklah. Memang, aku hanya pantas dapat maaf. Kalau tak ditanyapun aku tak akan meminta yang lain. 

Tapi, di suatu hari, hari pertama di tahun itu aku melihatnya. Dia belikan eskrim itu. 

Ya, apapun bisa terjadi. Bahkan ketika kau telah lupa apa yang pernah kau inginkan yang saat itu tak bisa dia berikan. 

Mungkin, ketika semua sudah biasa, Allah akan mengejutkanmu. Memberikan sesuatu yang dulu kau inginkan. Meski dulu juga ada yang bilang tak mau memberikan. Bukankah Allah yang menggerakkan? 

Tolong, jangan komen aneh-aneh.