Never Stop Learn 

Portofolio

By: Amiradhana Salsabila

Sudah besar? Be wise dalam memberikan penilaian ke orang. Jangan labeling sebelum observing. Data kamu sudah lengkap? Bagaimana data tentang penerimaan? Bukankah kamu ingin diterima orang lain sebagaimana adanya? Lalu bagaimana penerimaanmu pada mereka? Apakah kita better jika di posisi dia? Bisa handle? Belum tentu ‘kan?

Dalam manajemen organisasi,

Advertisements

Salah Satu Kisah

Portofolio

Ada, salah satu kisah panjang di hidupmu. Yang kau harapkan tak menghadirkan tangis, tapi malah memberimu banyak. Anehnya kau bertahan dengan itu.

Namun, ketika kembalinya rasa dari perginya yang tak terhitung sudah berapa kali membuatmu paham hakikat keberadaanmu untuknya. Kau memutuskan untuk melepasnya, terbang bebas mengudara. Hingga membiarkannya hanyut di lautan.

Kemudian, itu semua termaktub dalam sajak sendu penuh simpulan.

Bahwa…

Ada yang harus dilepas, untuk menguji ikhlas. Agar jika dia harus kembali, kau tahu harus bebas atau kebas. 

Ada yang harus dilepas, untuk menguji iman. Bukan perkara nyaman atau sekedar teman. Pastikan saja imanmu aman. 

Ada yang harus dilepas, dia yang lebih dulu pernah melepas. Bukan soal impas melainkan tegas. 

Ada yang harus dilepas, bahkan ketika dia baru mengakui benar adanya rasa setelah milikmu kau lepas untuk bebas.

Seperti sebuah tas, kau yang berhak putuskan kapan harus melepas. Membiarkannya tergeletak tanpa perlu mengelak. Mengisitirahatkan pundakmu sejenak. Untuk beranjak menua dengan dia yang sama-sama ingin menguatkan kelak.

-Dhanasalsabila

Rindu, teman duduk paling lamaku.

Portofolio

“​Omong-omong,  apa alasan dia rindu?”

“Mana ku tahu. Memangnya rindu butuh alasan?”

“Oh, terkadang ia membuatku kesal.

Kala rindu datang tiba-tiba.”

“Tapi masih belum bisa berbuat apa-apa

Atau

Rindu yang baru saja muncul?

Ah, klise.

Padahal, rindu adalah tempat belajar.

Saat kasus-kasus rindu yang lalu ada yang membuatmu tegar bahkan sampai terkapar.

 

Rindu terkadang melemahkan, meski yang kau rindu entah siapa.

Meski yang kau rindu tak kenal.

Karena lemah itu, rindu menjadi menguatkan.

Untuk bertahan, untuk berjuang.

 

Kau tahu bahwa ada tentang rindu yang belum pernah diawali temu?

Iya, ada. Rindu, yang saling menyapa dalam doa.

Rabb punya waktu terbaikNya untuk menjawab pinta hambaNya.

Karena memang, rindu tak harus berawal jumpa. Dia bisa jauh lebih kuat ketika berawal doa.

 

Tapi, apa yang kau sebut dalam doa tahu? Bahwa kau ingin menjadi teman duduk paling lamanya? Berjuang bersama dalam tangan yang saling menggengam?

Apa dia tahu?

Apa dia tahu bahwa ternyata dirinyalah mungkin juga adalah jawaban dari doa-doa kau selama itu?

Justru, mungkin. Di antara kau dan dia tak ada yang pernah tahu.

Bagaimana kalang kabutnya menahan diri yang tersipu. Hati yang mengharu. Lidah yang kelu. Di balik kata yang menuliskan kekakuan melainkan harapan.

Harapan bahwa andai, aku segera bisa menjadi teman duduk paling lamamu.

Hai, rindu. Segeralah bertemu.”

Kamu, Aku dan Sabar

Portofolio

Untuk kamu yang masih takut melepaskan rasa itu terbang

Untuk kamu yang masih takut membiarkan rasa itu jatuh bebas

Kamu bisa terbang dengan dia entah siapa yang mau terbang bersamamu dengan pesawatnya, asalkan kamu melepaskan rasa itu untuk jatuh. Jatuh untuk terbang. 

Akan ada yang menangkapnya. Dia, dia yang membutuhkanmu pun yang kamu butuhkan. 

Terbang, bawalah do’a itu mengetuk pintu langit.

Sabar, 

“Cintamu saat ini tidak disyariatakan. Cinta yang disyariatakan adalah cinta antara suami istri. Cintamu atau cintanya kini jelas tertolak. Karena rasa seperti ini merupakan buah dari banyak pelanggaran yang terakumulasi dalam waktu yang lama.” -Muslimah.or.id 

Sabar, sabar untuk mencinta pada waktunya. 

Sabar, jangan dilanggar. 

Sabar, menggapai halal dengan cara yang halal. 

Sabar, jangan lelah mencegah kemungkaran. 

Apabila benar, yang kau anggap susah akan terasa mudah. 

Apabila benar dia orangnya, tentu dia tak akan membiarkan kalian terkena makar syaitan. 

Sabar, teman. 

Senja Memerah Bercumbu dengan Kenangan

Portofolio

Aku ingat senja terakhir yang kita nikmati bersama. Menyusuri bibir pantai yang siangnya kau menemaniku berjemur di atasnya.

Aku ingat ombak terakhir yang menggulung kenangan. Dengan bulu babi di antara karang, seperti memberi pesan agar kelak aku harus kuat dan penuh kesabaran.

Aku ingat pantai terakhir yang kita injak. Dengan cumi-cumi bakar sebagai menu spesial makan malam, lalu pada pagi harinya kita beranjak pergi meninggalkan semua itu di belakang.

Pertemuan 

Portofolio

Sore ini sebelum pulang ke Depok, aku/ana/gue (pilih satu, saya aja ya). Ya, saya memenuhi ajakan seorang kawan utk hadir ke sebuah acara yg himpunannya adakan.  Berhubung kampusnya bukan daerah saya, nyari temenlah yg kira2 mau datang juga acara itu. Yasudah, saya hubungi salah satu kawan saya yang kuliah di sana, namanya Zidna. Janjian tuh kami.

Sudah sampai tepat pukul 16.00 (kurang si sebenernya, jajan dulu wkwk) dimana acaranya dimulai, tp ternyata Zidna masih di jalan. Tak apa aku menunggu, meski udah merinding sama bocah2 sana. Jd aja ga berani masuk sendirian, hehe. Zidna bilang, kalau ada temennya juga yg mau ikut acara itu. Yauwis, nanti bareng berarti.

Hampir 30 menit menunggu, takut kelewat jauh materi. Zidna minta saya nunggu di tenda biru aja. Dan alhamdulillah akhirnya Zidna sampai, dan kami langsung menuju lokasi~

Nah, sebelumnya Zidna nyariin temennya yg tadi dia bilang mau ikut juga. Nemu tuh sebelum naik lift. Kenalan, ternyata namanya sama-sama Mira, hahaha. Dia Miranti aku Amiradhana. Really have no idea deh or no clue.

Yaudah ngobrol seadanya sebelum sampai lokasi. Setelah sampai, duduk, alhamdulillah baru mulai pas kami sampai, dan mengikutinya hingga acara berakhir. Seorang Amira selalu bingung dong ya mau pulang naik apa, apalagi dr daerah orang. Zidna juga beda arah.

Pas lagi bingung itu, Zidna bilang “Nih, pulang bareng dia aja nih. Ke Depok juga,” wah menarik sekali dong tentunya.
“Pulang ke Depok? Yaudah yuk bareng. Naik apa?”

“Iya ke Depok, naik kereta aja yuk.”

“Oke kereta, Depoknya mana?”

“Depok Timur sih, tp mau ke balkot dulu nanti.”

Ya okelah, semacam itu percakapannya (padahal depan saya juga org Depok dan rumahnya lebih dkt, tp td dia ngilang) hingga sampailah pada pertanyaan saya ke Miranti,

“SMAnya dimana?”

“SMA 3”

“SMANTI?”

“Iya,”

“wohh, aku SMADA.  SMPnya SMPnya?”

“SMP 3, bento2”

“Bento??? Seriusan kamu anak bento?”

*Highfive!*
Yak, jadi dia adalah adik kelas saya waktu SMP. Maa syaa Allah :’ Tapi saat itu saya belum ngeh dia siapa…

Hingga saat menunggu mereka shalat, saya cari abis2an di ig, fb, gugle. Cuma punya clue “Miranti” ya susah lah ya. Akhirnya baru ketemu, nemu di status junior yg saya kenal. Nama lengkapnya Miranti dan itu sungguh tidak asing. Setelah sholat saya tanyakan, dan benar itu namanya. Wkwk. Maa syaa Allah.

Lupa2 inget apakah dulu kita temenan atau engga. Tp kayaknya temenan tp lupa kenalnya gimana. Sampai akhirnya dia ingat nama belakang saya. Maa syaa Allah.
Alhamdulillah, orang Depok, adik kelas, ketemu lagi. Jauh, macet, padat dan jarak sudah tak berasa. Apalagi lelah. Malah semangat dan bahagia (heleh). Seriusan. Wkwk. Pikir saya tadi hanya janjian sama Zidna, dtg acara udah titik. Pulang. Ternyata Zidna perantaranya~ yeay, Jazaakillahu khayra Zid~~

Yaa, pulanglah kami bersama. Dengan perjalanan yang padat, penuh cerita dan makna (habis satu buku jika saya ceritakan semuanya wkwk) . Ada beberapa nostalgia dan sharing2 wow. Obrolan yg cukup berat. Maa syaa Allah :’)

Saya selalu suka pada pertemuan. Saya selalu suka kejutan yang Allah beri untuk saya. Bagi saya itu seperti hadiah, tentu tergantung bagaimana kita memaknainya. Pertemuan kadang menghadirkan temuan.

Saya selalu suka pertemuan saya dengan orang baru yang memang cocok, sering ada kasus besar yang jadi pokok pembicaraan di sana. Selalu ada hal yang menginspirasi dan bisa dibagi. Selalu bisa menghadirkan cerita dan menjawab banyak tanya.

Bagi saya, teman adalah hadiah. Pemberian dari Allah yang harus kita hargai dan jaga.

Teman, termasuk jajaran orang-orang yang tak sampai hati melihat mereka terpuruk. Namun yang lebih sedih lagi apa? Ketika mereka tidak mau diajak bangkit.

Teman, saya tak peduli seburuk apa mereka menilai. Yang penting saya melakukan yang terbaik untuk mereka. Namun yang lebih sedih lagi apa? Ketika mereka pikir kau itu jahat padahal  tak pernah  sama sekali utk berbuat sejahat pikirannya.

Teman, tak peduli sudah pergi seberapa jauh. Yang penting, jika ia mau kembali, mereka harus tahu aku masih di sini. Namun, yang lebih sedih lagi apa? Ketika tulusmu tidaklah cukup baginya untuk membuatmu jadi teman yang baik.

Teman, yang aku tak pernah menyerah untuk mereka. Sekalipun ribuan tikaman pernah mendarat di dada. Namun, yang lebih sedih lagi apa? Ketika sabarmu hilang kemudian kau pergi dan menyerah.

Maa syaa Allah, semoga Allah memberikan kita teman-teman dan lingkungan yang baik. Semoga kita diberi kesabaran yang super duper lebih baik dari sebelumnya, asal diasah terus ya! Semoga kita istiqomah pula dalam kebaikan tersebut.

Jadilah hamba yang bisa berpikir dan jangan mudah putus asa. Karena itu bagian merupakan dari keimanan.
Itu serita saya sore ini! Jangan takut berteman! ^^

Belajar 

Portofolio

You know, it’s not that easy. You said you need more time but you do not give them an answers soon. So they’re just confused with their own assumption. 

You need to learn a lot. Don’t do the same mistake. Also don’t be like them who hurt you in the past. 

You are in total confusion right now. Go back and move up. Be smart, be wise.

Don’t make them wait if you don’t want to wait. 

Don’t make them fall in love with you if you don’t want to become their lover. 

Stop saying stupid words. Give them your personal answers. 

You know you always excited in your first of everything. Sometimes until your mind is covered up with your feeling. 

Even though this is your first, you should remember to be smart. But it’s already happened. Don’t repeat in your second. 

I know you do not want to break anyone’s heart. But, this is the consequences if you do that in a wrong way.

Introspection. Ask a forgiveness to Allah repentantly. 

What? You don’t know how to say a word to them? Yeah, me too. But you must do that. 

The conclusion is, on this semester, you really need to focus. Swipe away them from every aspect in your life. Study, learn, ‘ilm, da’ wa, qur’an, parent, family, friends. Focus.

It’s okay, no hurry. There is always a best time for everything. Be calm, be better, and pray. Try? Haha, soon, I will fight.

Cinta: Nikmat tapi Maksiat atau Nikmat tapi Taat?

Portofolio

Bismillah.
Assalamu’alaykum bro and sist! Gue bukan pakar tapi gue cuma mau ngajak kalian belajar, gue juga belajar lah, yuk!

It’s all about love between men and women.
Are you already on the right path in love?

Tetaplah Jadi Baik

Portofolio

Bismillah. Assalamu’alaykum all the readers, whazzup? Amira alhamdulillah. 

Gengs. Kalian pasti pernah dong, menemukan di sekitar kalian orang-orang baik atau minimal mendengar cerita tentang mereka (contohnya para Nabi). Tak hanya cerita mengenai baiknya mereka saja, namun juga kisah nyata mereka dan ujian yang mereka hadapi sehingga kalian bisa menyebutnya sebagai orang baik. Atau mungkin, kalian juga yang mendapat perlakuan baik dari mereka, kalianlah teman curhat mereka? Dan mungkin juga, jangan-jangan kalianlah orang baik tersebut? Maa syaa Allah aamiin, semoga Allah selalu menjaga kita dalam kebaikan dan menjaga hati kita dari kesombongan. 

Bukan apa-apalah diri kita, karena kebaikan sekecil apapun itu tetap datangnya dari Allah. 

Okay. ​Ujian orang-orang baik tak jarang kita lihat begitu berat. Kadang sampai ada dari mereka yang berpikir (ketika didzalimi) “salah ya jadi orang baik?” padahal mereka melakukan kebaikan itu begitu saja. Otomatis dilakukan, tidak dibuat-buat. Begitu tulus, bahkan polos seperti anak kecil. Mereka menolong hanya karena mereka ingin menolong, mereka memudahkan hanya karena ingin memudahkan, mereka baik pada setiap orang hanya karena mereka berprasangka baik. 

Kadang juga meski terus tersakiti dan semua orang sudah meminta dia berhenti melakukan hal baik agar tidak tersakiti, dia tetap melakukannya. Karena dia percaya bahwa setiap orang juga bisa jadi baik. “Kamu itu terlalu baik!” begitulah kita katakan. 
Sehingga kita heran ketika salah satu dari mereka mendapatkan ujian, kita bertanya-tanya. Mengapa ujian mereka begitu berat? Mengapa orang-orang di sekitarnya mendzalimi dirinya? Mengapa orang-orang itu tega melakukan hal tersebut padanya? Mengapa orang baik sering disakiti? Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Padahal semua orang juga mendapat ujian. 

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

وَاِذَا عَظُمَت المِحْنَةُ كَانَ ذَلِكَ لِلْمُؤْمِنِ الصَّالِحِ سَبَبًا لِعُلُوِّ الدَرَجَةِ وَعَظِيْمِ الاَجْرِ

“Cobaan yang semakin berat akan senantiasa menimpa seorang mukmin yang sholih untuk meninggikan derajatnya dan agar ia semakin mendapatkan ganjaran yang besar.”



Al Munawi mengatakan, “Jika seorang mukmin diberi cobaan maka itu sesuai dengan ketaatan, keikhlasan, dan keimanan dalam hatinya.

Al Munawi mengatakan pula, “Barangsiapa yang menyangka bahwa apabila seorang hamba ditimpa ujian yang berat, itu adalah suatu kehinaan; maka sungguh akalnya telah hilang dan hatinya telah buta. Betapa banyak orang sholih (ulama besar) yang mendapatkan berbagai ujian yang menyulitkan. Tidakkah kita melihat mengenai kisah disembelihnya Nabi Allah Yahya bin Zakariya, terbunuhnya tiga Khulafa’ur Rosyidin, terbunuhnya Al Husain, Ibnu Zubair dan Ibnu Jabir. Begitu juga tidakkah kita perhatikan kisah Abu Hanifah yang dipenjara sehingga mati di dalam buih, Imam Malik yang dibuat telanjang kemudian dicambuk dan tangannya ditarik sehingga lepaslah bahunya, begitu juga kisah Imam Ahmad yang disiksa hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup. … Dan masih banyak kisah lainnya.”
Semakin kuat iman, semakin berat cobaan, namun semakin Allah cinta. 

Bahkan tak jarang setelah waktu berjalan, kita melihat orang-orang baik itu semakin gemilang. Meski ada juga yang masih berkutat dengam kesabaran.

Iya, sabar. 

Ganjaran bersabar sangat luar biasa. Ingatlah janji Allah,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga).” (QS. Az Zumar: 10).

Allah selalu menguji orang baik dengan ujian yang hebat-hebat. Yang membuat mereka semakin kuat dan semakin hebat. Yang nanti Allah akan kasih janji kebahagiaan atau balasannya kelak.

Begitulah.

Maka tetaplah jadi orang baik, atau setidaknya terus jadi lebih baik. Berusahalah jadi orang baik. Contoh mereka yang kau lihat ada kebaikan padanya.

Selalu bersabar, karena Allah punya ganjaran. 

Dan, tolong dipastikan, yang harus benar-benar dicamkan. Jangan sampai kita malah menjadi salah satu yang mendzalimi orang-orang baik tersebut. لا. 

Selalu doakan, yang mendzalimi diberikan hidayah serta kelembutan hati. Karena Allah yang bolak-balikkan hati. Jika kita pernah, segeralah bertaubat. Segera berubah jadi hamba yang taat. 

Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari hal-hal yamg tidak diridhai-Nya. Aamiin. 

🙂 

-Dhana Salsabila

Referensi: https://rumaysho.com/678-seseorang-akan-mendapat-ujian-sebanding-kualitas-imannya.html