Communication Problem

Portofolio, Relationship, Thought

Pada tulisan ini, saya akan membahas mengenai hal yang sering menganggu pikiran saya karena kurangnya keberanian saya dalam berkata langsung pada orang-orang yang bersangkutan. Untuk yang pernah saya utarakan mengenai ini namun masih samar, dan bagi kamu siapa saja yang membaca tulisan ini. Di sini saya akan menjelaskan hal tersebut dengan lebih detail.

Saya yakin banyak dari kita yang melakukan ini tanpa sadar, atau khilaf. Juga jarangnya orang terdekat yang mau mengingatkan, dan hingga sekarang ternyata kita masih seperti itu. Bagi kamu yang sudah tidak seperti itu, saya salut dan akan lebih salut apabila kalian membantu kawan lain dengan mengingatkan mereka, semampu kalian, untuk kebaikan semua.

Nah. Coba diingat-ingat, kapan terakhir kali kita mendengarkan dengan baik cerita dari teman kita? Kapan terakhir kali kita merespons cerita mereka dengan pantas? Apakah dalam detik berikutnya kita masih ingat apa yang kawan kita ceritakan? Atau malah jangan-jangan selama ini kita tidak sadar mereka baru saja berbicara? Atau ternyata kita tidak mendengarkan dan hanya mau didengar?

Pesan pertama untuk kita semua. Jadilah orang yang mau didengar dan mau mendengarkan. Jangan jadi orang yang maunya orang lain dengar apa yang kita bicarakan, namun, giliran orang lain berbicara hanya jasad kita saja yang ada, sedangkan mata dan pikiran kita malah berwisata. Dipanggil jawab ‘hah’  ditunggu jawabannya ternyata kitanya tidak ada. Kasian, lebih baik tidak usah bercerita biar tidak bertepuk sebelah tangan.

Semenjak ada dirimu

Relationship

“Mengapa kita tidak bersama dari dulu? Agar aku sadar betapa indahnya dunia ketika bersamamu.”

Entah apa yang membuatku memilih mu saat itu. Pastinya tidak mudah menemukan yang pas untukku. Belum lagi aku harus dapat persetujuan dari mama soal pilihanku. Kurasa, kau lah yang paling cocok saat itu. Dengan jahatnya membuat pesaing lain tersingkir dan harus mundur kembali. Ya mereka akan menemukan jodohnya masing-masing kok. Dan ‘kau’lah yang ditakdirkan untukku.

Bukan hanya yang enak dilihat, kita juga harus sangat berhati-hati dalam memilih. Bakalan nyaman ga kira2? Cocok ga? Orang tua ridho ga?  Antara satu dengan yang lain terkadang bedanya tipis. Balik lagi, kita lebih cenderung ke yang mana. Maunya sama yang mana. Sampai kepada Bismillah, aku pilih kamu.

Namun untuk memilikimu ternyata tak semudah itu.. Hahahaha walau ternyata kita ditakdirkan untuk saling memiliki, prosesnya itu loh ya ga kayak bikin mie instan.Mereka selalu bertanya, apakah aku yakin dengan apa yang aku lihat? Apa aku yakin dengan pilihanku? Sempat ku ragu. Ya, ketidaksempurnaan yang ada nanti bisa disesuaikan dan aku terima resikonya. Wong itu pilihan ku. Seenggaknya aku yakin kamu bisa melengkapi kekuranganku.

Gamau main-main kayak dulu. Sekarang serius, karena ini keputusan besar!

Dan akhirnyaaaa yeay! Sah! Kau resmi jadi milikku! huahahahahahaa legaa~ sempet deg-degan nunggunyaa. Tapi seneng banget abis itu :’

Awal kehadiranmu, sedikit membuatku pusing dan bingung. Ya mungkin aku belum terbiasa. Setelah beberapa hari berlalu aku mulai nyaman kok. Hehe.

Tapi aku baru sadar, kaca yang sebelah kiri harusnya ditambahin silinder juga. Terus kayaknya minusnya kurang sedikiit lagi. Padahal yang kanan udah perfecto. Pusing dan bingung deh jadinya. Gemes banget. Tapi seenggaknya, dunia bener-bener jadi lebih indah.. Bisa baca tulisan di papan tulis :’) Ga ngeblur~ Terus gaperlu nyipit2in mata dan ngerepotin ustadzah buat diktein wkwk.

____________________________________________

Belum dua minggu kita bersama… aku dibangunkan mama pagi itu
“Mba, kacamata kamu patah..”
Ya.. Ampun…

Ternyata kita belum ditakdirkan bersama, segera kutemukan penggantimu! hahahahah!

Teman Profesional

Cerpen, Portofolio, Relationship

12 Agustus 2016.

“Sorry, this content isn’t available right now. The link you followed may have expired, or the page may only be visible to an audience you’re not in.”-Facebook

Aku penasaran, apakah ini benar-benar akhir dari kita? Atau mungkinkah di masa depan, akan ada bab baru untuk kita? Ku kira hanya aku yang merasa perlu mengakhiri ini dan hanya aku yang bisa mengakhirinya. Tapi ternyata kau bisa melakukan satu langkah yang terlampau jauh. Aish, facebook ku kamu blokir?

***

Hei boy! Mau berapa kali buatku menangis? Kau sudah cukup gila ya waktu itu, seenaknya saja bicara. Seketika hidupku seperti sinetron. Ingat kan apa yang kau lakukan saat itu?

“John, jadi gini. Ada cewek nih yang suka sama lu..”
“Oke, tunggu-tunggu. Maksudnya apa nih?” jawab John