Individu sebagai Representasi Kelompok

Opinion, Portofolio, Thought

Opinion of the Day #1 –  amirdhns

LDK case

Ketika kita maju ke atau berada pada muka publik dalam kehidupan nyata maupun sosial media. Perlu diingat bahwa dalam worldspace dan cyberspace ini kita tidak hanya dilihat sebagai individu, namun, kita juga merupakan representasi dari organisasi yang kita ikuti. Alias,  manusia di luar sana juga akan melihat latar belakang kita saat kita berperilaku di dua dunia tersebut.

Terus kenapa ya?

Gini, berarti apa-apa yang kita lakukan, baik atau buruk, yang kena imbas bukan cuma pribadi kita,  namun nama organisasi pun iya (bisa juga seperti nama keluarga, kampus,  sekolah kita dulu, pokoknya kelompok-kelompok formal-informal primer-sekunder).

Misal,  sudah menjadi stereotip bagi mereka yang bukan anggota LDK (Lembaga Dakwah Kampus) mengenai image keshalihan anak LDK–meski kita semua tahu bahwa itu bukan sesuatu yang bisa digeneralisasi, bahkan ikut LDK justru ingin shalih dan terjaga keshalihannya.

Di satu sisi,  seorang anak LDK yang shalih adalah berita biasa untuk mereka. Di lain sisi,  mereka akan bertanya-tanya ketika melihat sesuatu yang menyimpang dari stereotip mereka yang mestinya tidak dilakukan oleh anak LDK di dunia nyata maupun maya.

Dalam Kode Etik LDK–yang insyaa Allah berlandaskan Qur’an dan hadits–pada bab ‘Adab Interaksi Ikhwan-Akhwat’ sudah tertulis jelas. Dan meski mereka orang luar tidak mengetahui kode etik itu,  mereka tahu bahwa penyimpangan itu tidak seharusnya kita lakukan sebagai anak LDK (ya yang mestinya adab-adab itu pun dilakukan oleh semua muslim termasuk mereka).

Nah, adab-adab tersebut mestinya juga digunakan di cyberspace. Mending,  apabila perilaku/kegiatan yang menurut kita biasa saja atau tidak ada potensi menyimpang atau kita anggap lumrah atau dengan label kegiatan islami bcs pakai bahasa arab (padahal mah ya ada samtingnya lah) hanya kita lakukan di dunia nyata. Untung rugi kita yang simpan, tak perlu ada benda hidup mati lain yang jadi saksi melainkan Allah sendiri saksinya juga menjadi hakim dari potensi pahala atau dosa dan para malaikatNya yang mencatat.

Tapi,  bagaimana jika hal tersebut kita abadikan dalam sebuah potret,  lalu kita taruh pada akun sosial media kita, tidak sekedar berlalu seperti halnya perilaku dalam nyatanya ruang waktu. Namun dia tetap ada dan tersimpan dalam mayanya dunia satu itu. Kemudian para followers kita, juga selain mereka yang pikirannya sudah terkonstruk atau bahkan kawan kita satu LDK melihatnya. Satu mata,  disampaikan pada mata lain, terus entah berhenti di mata mana. Mulut dan pikiran juga ikut menafsirkan sendiri potret dan caption kita. Berlagak intel break the code. Mereka tahu apa yang kita lakukan, kemana, dengan siapa,  berlatar belakang apa, dari organisasi mana. Padahal, itu adalah sebuah pilihan. Yang mestinya hanya Allah, malaikat dan hitungan jari manusia yang tahu. Tapi kita malah memilih membuat makhluk seantero jagat maya berbasis jagat nyata tahu.

So, konstruksi pikiran mereka tentang anak LDK akan tergores. Kecewa? Beberapa mengatakan iya, bahkan topik tersebut menjadi santapan malam mereka. Sudah  bukan sekedar prasangka. Why? Karena anak LDK adalah contoh, representasi dari organisasi dan agamanya. Walau manusia memang tidak luput dari kesalahan–dan anak LDK juga termasuk manusia. Banyak yang orang harapkan dari anak LDK meski hanya berperilaku baik. Dan meski itu hanya segelintir kelalaian dari berjuta kebaikan. Tetap saja,  setitik tinta merah pada selembar kertas putih akan lebih menarik untuk diperhatikan.

Ikhwah fillah. Jangan mau didalangi nafsu, kalahkan deh untuk menghilangkan mudharat dan mendatangkan maslahat.  Apabila kita menjaga diri kita di worldspace apalagi cyberspace, kita juga membantu menjaga hati, lisan, serta pikiran saudara-saudara kita di luar sana. Kita tidak menyuguhkan diri kita sendiri untuk menjadi santapan malam mereka atau mungkin makan siang mereka bersama kawan-kawannya. Nama kita terjaga,  nama organisasi pun terjaga, dan yang paling penting Islam dengan kita sebagai representasinya tergaja. Terus semua ini kita lakukan karena Allah semata.

Then, apakah LDK perlu membuat Cyberethic? Apa Qur’an dan Sunnah belum cukup? Bukankah Allah selalu melihatmu? Bersamamu? Malaikat juga mencatat bukan?

-ADS

Ciputat, 18 Maret 2017

Communication Problem

Portofolio, Relationship, Thought

Pada tulisan ini, saya akan membahas mengenai hal yang sering menganggu pikiran saya karena kurangnya keberanian saya dalam berkata langsung pada orang-orang yang bersangkutan. Untuk yang pernah saya utarakan mengenai ini namun masih samar, dan bagi kamu siapa saja yang membaca tulisan ini. Di sini saya akan menjelaskan hal tersebut dengan lebih detail.

Saya yakin banyak dari kita yang melakukan ini tanpa sadar, atau khilaf. Juga jarangnya orang terdekat yang mau mengingatkan, dan hingga sekarang ternyata kita masih seperti itu. Bagi kamu yang sudah tidak seperti itu, saya salut dan akan lebih salut apabila kalian membantu kawan lain dengan mengingatkan mereka, semampu kalian, untuk kebaikan semua.

Nah. Coba diingat-ingat, kapan terakhir kali kita mendengarkan dengan baik cerita dari teman kita? Kapan terakhir kali kita merespons cerita mereka dengan pantas? Apakah dalam detik berikutnya kita masih ingat apa yang kawan kita ceritakan? Atau malah jangan-jangan selama ini kita tidak sadar mereka baru saja berbicara? Atau ternyata kita tidak mendengarkan dan hanya mau didengar?

Pesan pertama untuk kita semua. Jadilah orang yang mau didengar dan mau mendengarkan. Jangan jadi orang yang maunya orang lain dengar apa yang kita bicarakan, namun, giliran orang lain berbicara hanya jasad kita saja yang ada, sedangkan mata dan pikiran kita malah berwisata. Dipanggil jawab ‘hah’  ditunggu jawabannya ternyata kitanya tidak ada. Kasian, lebih baik tidak usah bercerita biar tidak bertepuk sebelah tangan.