Mereka Ada Bersama Kita

Mental Illness, Portofolio, Thought

Tulisan ini akan menjadi sangat panjang. Jadi siapkan mental. Jangan malas duluan. In syaa Allaah this is worth to read.

#1

Daun-daun terus berguguran, semakin menumpuk menutupi halaman. Sesekali tetangga-tetangga bantu menyapunya.

Debu-debu juga tak mau kalah, menyelimuti etalase toko depan rumahnya. Jarang sekali pembeli datang jika bukan tanpa keterpaksaan. Uang kembalian bisa sangat lebih atau sangat kurang.

Jangan tanya kondisi di dalam rumah. Hanya dia di sana hidup seorang, meski keluarganya sangat berkecukupan, lebih bahkan. Namun rumahnya selalu sepi, terus sepi.

Tanpa tawa, dia hanya terduduk dengan tatapan hampa.

Individu sebagai Representasi Kelompok

Opinion, Portofolio, Thought

Opinion of the Day #1

LDK case

Ketika kita maju ke atau berada pada muka publik dalam kehidupan nyata maupun sosial media. Perlu diingat bahwa dalam worldspace dan cyberspace ini kita tidak hanya dilihat sebagai individu, namun, kita juga merupakan representasi dari organisasi yang kita ikuti. Alias,  manusia di luar sana juga akan melihat latar belakang kita saat kita berperilaku di dua dunia tersebut.

Terus kenapa ya?

(Penduduk) Bumi dan Rem

Analogi, Message, Portofolio, Thought

Bumi, bukan tempat yang cocok untuk kamu tinggali, kalo kamu disenggol dikit aja, baper.
Bumi, bukan tempat yang cocok untuk kamu tinggali, kalo kamu mau menang sendiri.
Bumi, bukan tempat yang cocok untuk kamu tinggali, kalo kamu gamau dikritik sana sini.

Esther & Grey

Conversation, Thought

Incoming Call

Esther: “Hallo, Esther di sini. Dengan siapa aku berbicara?”

Grey: “Hai, ini Grey…”

Esther: “Ugh. Ada apa kau menelpon?”

Grey: “Soal kau memblokir aku-,”

Communication Problem

Portofolio, Relationship, Thought

Pada tulisan ini, saya akan membahas mengenai hal yang sering menganggu pikiran saya karena kurangnya keberanian saya dalam berkata langsung pada orang-orang yang bersangkutan. Untuk yang pernah saya utarakan mengenai ini namun masih samar, dan bagi kamu siapa saja yang membaca tulisan ini. Di sini saya akan menjelaskan hal tersebut dengan lebih detail.

Saya yakin banyak dari kita yang melakukan ini tanpa sadar, atau khilaf. Juga jarangnya orang terdekat yang mau mengingatkan, dan hingga sekarang ternyata kita masih seperti itu. Bagi kamu yang sudah tidak seperti itu, saya salut dan akan lebih salut apabila kalian membantu kawan lain dengan mengingatkan mereka, semampu kalian, untuk kebaikan semua.

Nah. Coba diingat-ingat, kapan terakhir kali kita mendengarkan dengan baik cerita dari teman kita? Kapan terakhir kali kita merespons cerita mereka dengan pantas? Apakah dalam detik berikutnya kita masih ingat apa yang kawan kita ceritakan? Atau malah jangan-jangan selama ini kita tidak sadar mereka baru saja berbicara? Atau ternyata kita tidak mendengarkan dan hanya mau didengar?

Pesan pertama untuk kita semua. Jadilah orang yang mau didengar dan mau mendengarkan. Jangan jadi orang yang maunya orang lain dengar apa yang kita bicarakan, namun, giliran orang lain berbicara hanya jasad kita saja yang ada, sedangkan mata dan pikiran kita malah berwisata. Dipanggil jawab ‘hah’  ditunggu jawabannya ternyata kitanya tidak ada. Kasian, lebih baik tidak usah bercerita biar tidak bertepuk sebelah tangan.