Janji, Patah yang Terakhir

Portofolio

“Dan akhirnya, sekarang Mei benar-benar datang, dan sekarang dia benar-benar pergi.”-Rizma

Mei sudah mau habis, dan dia sudah pergi. Dan patah lagi.

Mungkin kau lelah melihatku patah, yang lain pun begitu.

Mari berhitung, ini patahku yang ketiga.

Patah begitu saja, akumulasi dari terpaan yang lalu. Jatuh berulang-ulang, tanpa sadar membuat retak. 

Akhirnya pun tidak kuat. 

Semua terlihat masih sama, hanya saja sedikit berbeda. Aku lebih sering meraba. Patah kali ini membuatku lebih hati-hati, lebih peduli terutama pada diri sendiri. 

Pelajaran apa yang kau ambil? Mana janjimu untuk memperbaiki dan tidak mengulang kesalahan? Nyatanya? Kau masih membuatnya patah. Lagi. 

Jika tak mau disebut ‘selalu’, sebut saja ‘sering’. 

Jangan seperti keledai.  Jatuh pada lubang yang sama. Mengajak yang lain untuk jatuh bersama. 

Kini Ramadhan datang, buktikan kau benar berjuang. Jaga diri sendiri, jaga milik sendiri. Jangan membuat patah. 

Kelak, akan ada yang lebih lembut menjagamu agar tidak patah. Bahkan sangat berhati-hati agar tidak retak. Menjaga dengan wibawa, bukan menyakiti tiba-tiba seakan tak sengaja. Yang berhenti berkata semua baik-baik saja, semua sudah biasa, semua sudah berlalu. Padahal, bukan hal remeh atau receh, ada patah yang tak kasat mata. 

Kini, biarkan patahmu pergi. Yakin, akan diganti (lagi). Kelak baikmu akan benar bermanfaat. Kelak pedulimu akan mendarat pada yang tepat. 

Nanti, jika ada pengganti aku mencoba berjanji. Untuk menggenggam dengan baik seperti ku genggam yang satu ini, ponselku kini (iya ga dilempar). Pokoknya, nanti kalau mama belikan aku kacamata lagi, bantu ingatkan kalau ketinggalan. Bantu jagain biar ga patah ya kawan-kawan.. Iya, dirantai kalo perlu biar gak j.a.t.u.h.

Diam, Ramaikan pada Penduduk Langit

Portofolio

Iya, aku tak sesedih tulisan-tulisanku. Tak pula sebahagia itu. 

Lagi pula, mereka bukanlah tulisan yang menyedihkan. Mereka tulisan yang menguatkan, hasil olah pikiran. Meski kadang terkesan arogan. 

Justru terkadang aku lupa pada apa saja yang pernah aku tulis. Semua kesedihan itu bersembunyi pada pada tumpukan naskah. Setelah pengaduan dengan Yang Maha Kuasa. 

Atau tentang cerita-cerita yang kau lihat aku menceritakannya dengan bahagia. Tentu bahagia, sedikit. Karena kutahu apa-apa hanya perlu secukupnya. Kadang itu hanya untuk mencari respons yang sesuai mauku. Hahaha. Kebanyakan berhasil. 

Tapi tidak, semua tidak seperti yang kalian lihat. Semua tidak seperti apa yang kalian dengar atau baca. Tidak. 

Kini waktunya aku menjaganya, dan kalian menjaga mereka. 

Dengan hanya bercerita pada Sang Pencipta. Bukan dengan ciptaannya. 

Jagalah dia, jaga kehormatannya. Mungkin saja kelak dia benar-benar menjadi pendamping hidup kalian. Sehingga kalian aman, karena sudah belajar menjaga kehormatannya mulai dari sekarang. 

Jagalah dia, meski dulu kau tak disuka karena banyak bicara. Berubahlah meski kau tak bisa berharap dia ikut merubah rasanya. 

Jagalah mereka, bahagiakan mereka dalam diam. 

Diam. Aku bilang diam. Ramaikan penduduk langit saja. Diam untuk para penduduk bumi. Oke? 

Hug

Portofolio

Aku juga pengen banget dipeluk..

Biar apa? 

Biar lega :’D

Tapi siapa yang mau meluk? 

Ga ada… Tapi aku beneran pengenn banget. Kayak dulu suka dipeluk ayah. 

Yaudah, semoga segera ya ada yang memelukmu erat. Melepaskan segala kekhawatiran dan kesedihan yang selama ini kau rasa. 

Ahahaha, iyaaa. Aamiin. 

Cukup

Portofolio

Maka setelah ini, cukuplah kisahmu aku yang simpan. 

Tiada lagi  yang perlu tau bagaimana itu kukenang. 

Tiada penikmatmu selain aku. 

Maka sampai sini kita cukupkan. 

Sampai jumpa di masa depan. 

Apa? 

Portofolio

Ada dia, yang terus menerus membuatmu meneteskan airmata. Padahal jelas dia sama sekali tak mau menghapusnya. 

Ada dia, yang terus menerus berbicara untuk kau dengar. Padahal cerita mu saja sama sekali tak tampak menarik baginya.

Hai manis, bukankah yang kau cari adalah dia yang dapat mengusap air matamu tanpa membuatmu menangis lebih dulu? 

Hai cantik, bukankah yang kau cari adalah dia yang yang selalu bersedia mendengarmu, menunggu kisahmu walau hanya keluh kesah hari itu? 

Maksudku di sini adalah kalian saling menulis kisah. Bukan yang satunya menguntungkan, satunya merugikan. Apa, Mir? Iya itu, kau tak hanya menjadi buku catatan harian baginya dan kau tak hanya menjadikan dia buku yang selalu menarik untuk kau baca. Namun juga sebaliknya. 

Biarkan saja. Mungkin itulah bagaimana untuknya kamu tercipta, dan bagaimana untukmu dia tercipta. 

Wanita Tangguh

Hope, Message, Portofolio

Aku menunggu, saat-saat dimana kita satu persatu menikah.

Menjadi seorang wanita super dalam segala hal. Melepas kebodohan di masa lampau. Termasuk kebodohan kita hari ini.

Tersanjung dan selalu terpesona pada setiap pagi karena telah ada dia yang akhirnya bisa menghargai mutiara terbaik lautan di tempat dia berlayar. Dia berhasil memilikinya.

Aku menunggu dimana kita menertawai kenangan pahit pun mensyukurinya.

Yang kita hanya teringat sekali dua kali kemudian kita lupa karena kita telah punya bayi besar yang harus kita urus, dan akan punya bayi kecil yang harus kita urus juga.

Kemudian kita sadar betapa bodohnya masa lalu kita hanya karena mengurusi hati yang rusak.

Aku menunggu dimana saat kita bisa bernapas lega, bisa membahas resep terbaru yang kalian punya atau yang kalian masak hari itu. Membaginya bersama kami.

Bukan membahas tentang kekhilafan semu laki-laki masa lalu, yang kita pun tak perlu lagi tahu menahu.

Dan bukan menahan langkah untuk dia yang jelas tak mau kamu.

Sahabatku, aku menunggu senyum terlebarmu, senyum termanismu. Dimana aku tahu hatimu tersenyum jauh lebih lebar dari bibirmu.

Dia yang dengan lantang ataupun gemetar mengucap janji suci itu. Menjadikan semesta sebagai saksi perjuanganmu. Menggugurkan keraguan, pun menutup luka itu.

Karena aku bosan dan geram melihatmu tersakiti oleh mereka yang labil juga abu-abu. Yang seakan tak peduli air matamu.

Kita harus jadi lebih baik, produktif, dan bermanfaat. Jadilah wanita cerdas dari sekarang, dalam sekedar urusan hati untuk menjaga sensitivitasnya. Dalam memilih penyempurna agamamu.

Hentikan menghabiskan setiap detikmu saat ini untuk guratan semu.

Jadilah wanita terbaik, yang mereka akhirnya menyesal karena telah meninggalkanmu.

Dan yang paling penting, cintailah Allah mu dan Allah akan memberikan padamu dia yang juga mencintaiNya. Karena ketika cinta hanya untuk Allah, cinta itu tak akan pernah mati. 🙂

 

Individu sebagai Representasi Kelompok

Opinion, Portofolio, Thought

Opinion of the Day #1 –  amirdhns

LDK case

Ketika kita maju ke atau berada pada muka publik dalam kehidupan nyata maupun sosial media. Perlu diingat bahwa dalam worldspace dan cyberspace ini kita tidak hanya dilihat sebagai individu, namun, kita juga merupakan representasi dari organisasi yang kita ikuti. Alias,  manusia di luar sana juga akan melihat latar belakang kita saat kita berperilaku di dua dunia tersebut.

Terus kenapa ya?

Gini, berarti apa-apa yang kita lakukan, baik atau buruk, yang kena imbas bukan cuma pribadi kita,  namun nama organisasi pun iya (bisa juga seperti nama keluarga, kampus,  sekolah kita dulu, pokoknya kelompok-kelompok formal-informal primer-sekunder).

Misal,  sudah menjadi stereotip bagi mereka yang bukan anggota LDK (Lembaga Dakwah Kampus) mengenai image keshalihan anak LDK–meski kita semua tahu bahwa itu bukan sesuatu yang bisa digeneralisasi, bahkan ikut LDK justru ingin shalih dan terjaga keshalihannya.

Di satu sisi,  seorang anak LDK yang shalih adalah berita biasa untuk mereka. Di lain sisi,  mereka akan bertanya-tanya ketika melihat sesuatu yang menyimpang dari stereotip mereka yang mestinya tidak dilakukan oleh anak LDK di dunia nyata maupun maya.

Dalam Kode Etik LDK–yang insyaa Allah berlandaskan Qur’an dan hadits–pada bab ‘Adab Interaksi Ikhwan-Akhwat’ sudah tertulis jelas. Dan meski mereka orang luar tidak mengetahui kode etik itu,  mereka tahu bahwa penyimpangan itu tidak seharusnya kita lakukan sebagai anak LDK (ya yang mestinya adab-adab itu pun dilakukan oleh semua muslim termasuk mereka).

Nah, adab-adab tersebut mestinya juga digunakan di cyberspace. Mending,  apabila perilaku/kegiatan yang menurut kita biasa saja atau tidak ada potensi menyimpang atau kita anggap lumrah atau dengan label kegiatan islami bcs pakai bahasa arab (padahal mah ya ada samtingnya lah) hanya kita lakukan di dunia nyata. Untung rugi kita yang simpan, tak perlu ada benda hidup mati lain yang jadi saksi melainkan Allah sendiri saksinya juga menjadi hakim dari potensi pahala atau dosa dan para malaikatNya yang mencatat.

Tapi,  bagaimana jika hal tersebut kita abadikan dalam sebuah potret,  lalu kita taruh pada akun sosial media kita, tidak sekedar berlalu seperti halnya perilaku dalam nyatanya ruang waktu. Namun dia tetap ada dan tersimpan dalam mayanya dunia satu itu. Kemudian para followers kita, juga selain mereka yang pikirannya sudah terkonstruk atau bahkan kawan kita satu LDK melihatnya. Satu mata,  disampaikan pada mata lain, terus entah berhenti di mata mana. Mulut dan pikiran juga ikut menafsirkan sendiri potret dan caption kita. Berlagak intel break the code. Mereka tahu apa yang kita lakukan, kemana, dengan siapa,  berlatar belakang apa, dari organisasi mana. Padahal, itu adalah sebuah pilihan. Yang mestinya hanya Allah, malaikat dan hitungan jari manusia yang tahu. Tapi kita malah memilih membuat makhluk seantero jagat maya berbasis jagat nyata tahu.

So, konstruksi pikiran mereka tentang anak LDK akan tergores. Kecewa? Beberapa mengatakan iya, bahkan topik tersebut menjadi santapan malam mereka. Sudah  bukan sekedar prasangka. Why? Karena anak LDK adalah contoh, representasi dari organisasi dan agamanya. Walau manusia memang tidak luput dari kesalahan–dan anak LDK juga termasuk manusia. Banyak yang orang harapkan dari anak LDK meski hanya berperilaku baik. Dan meski itu hanya segelintir kelalaian dari berjuta kebaikan. Tetap saja,  setitik tinta merah pada selembar kertas putih akan lebih menarik untuk diperhatikan.

Ikhwah fillah. Jangan mau didalangi nafsu, kalahkan deh untuk menghilangkan mudharat dan mendatangkan maslahat.  Apabila kita menjaga diri kita di worldspace apalagi cyberspace, kita juga membantu menjaga hati, lisan, serta pikiran saudara-saudara kita di luar sana. Kita tidak menyuguhkan diri kita sendiri untuk menjadi santapan malam mereka atau mungkin makan siang mereka bersama kawan-kawannya. Nama kita terjaga,  nama organisasi pun terjaga, dan yang paling penting Islam dengan kita sebagai representasinya tergaja. Terus semua ini kita lakukan karena Allah semata.

Then, apakah LDK perlu membuat Cyberethic? Apa Qur’an dan Sunnah belum cukup? Bukankah Allah selalu melihatmu? Bersamamu? Malaikat juga mencatat bukan?

-ADS

Ciputat, 18 Maret 2017

A Little Letter to My Little Sister

Bilingual, Friendship, Portfolio, Portofolio

UNFINISHED

            I was on the third semester in campus. That means a new college year which was my campus (also my department) got so many freshman. In the middle of the first semester, every department are conducting an activity that we called “Ta’aruf”. It’s a mandatory event for the freshman to know each other from their department better, and my generation was became the committee. This event was held for three days and two nights.

Tahajjud

Portofolio

“Sayang, sayangkuu… Tahajjud dulu yukkk!”

Aku dibangunkan pada sepertiga malam, namun ini masih terlalu jauh dari waktu Shubuh.

“Hah, masih jam segini TT..” Pikirku saat terbangun.

***

03:50

“Kak, telponmu bunyi…” panggil mom dari kamarnya yang terbangun karena dering teleponku.

“Sudah bangun kan, Mir?” dia mengirimkan SMS karena panggilannya aku reject.

“Naaah, jam segini dong. Udah kak,” eh yah.. Aku gapunya pulsa…

***

Di hari lain setelahnya, mom yang berada di kamarnya mengecek ponselku kemudian bertanya padaku yang berada di kamar belakang,

“Kak, Itu siapa sih yang suka bangunin tahajjud?”

“Temen aku,”

“Yang suka nelpon-nelpon, SMS.”

“Iya. Temen akuuu,”

“Siapa namanya?”

“Ka Atul,”

“Siapa?

“Kak Atul, Rifaatul M****blabla”

“Cewek?”

“Yaiyalah, hellow -_-”

Yaaa! We are doing tahajjud call! To wake our member for shalat tahajjud in last one third of the night. Ka Atul is one of the member who doing the task in several times.

What kind of group that does that?

Let me introduce to you,

Cont.