Esther & Grey

Conversation, Thought

Incoming Call

Esther: “Hallo, Esther di sini. Dengan siapa aku berbicara?”

Grey: “Hai, ini Grey…”

Esther: “Ugh. Ada apa kau menelpon?”

Grey: “Soal kau memblokir aku-,”

Communication Problem

Portofolio, Relationship, Thought

Pada tulisan ini, saya akan membahas mengenai hal yang sering menganggu pikiran saya karena kurangnya keberanian saya dalam berkata langsung pada orang-orang yang bersangkutan. Untuk yang pernah saya utarakan mengenai ini namun masih samar, dan bagi kamu siapa saja yang membaca tulisan ini. Di sini saya akan menjelaskan hal tersebut dengan lebih detail.

Saya yakin banyak dari kita yang melakukan ini tanpa sadar, atau khilaf. Juga jarangnya orang terdekat yang mau mengingatkan, dan hingga sekarang ternyata kita masih seperti itu. Bagi kamu yang sudah tidak seperti itu, saya salut dan akan lebih salut apabila kalian membantu kawan lain dengan mengingatkan mereka, semampu kalian, untuk kebaikan semua.

Nah. Coba diingat-ingat, kapan terakhir kali kita mendengarkan dengan baik cerita dari teman kita? Kapan terakhir kali kita merespons cerita mereka dengan pantas? Apakah dalam detik berikutnya kita masih ingat apa yang kawan kita ceritakan? Atau malah jangan-jangan selama ini kita tidak sadar mereka baru saja berbicara? Atau ternyata kita tidak mendengarkan dan hanya mau didengar?

Pesan pertama untuk kita semua. Jadilah orang yang mau didengar dan mau mendengarkan. Jangan jadi orang yang maunya orang lain dengar apa yang kita bicarakan, namun, giliran orang lain berbicara hanya jasad kita saja yang ada, sedangkan mata dan pikiran kita malah berwisata. Dipanggil jawab ‘hah’  ditunggu jawabannya ternyata kitanya tidak ada. Kasian, lebih baik tidak usah bercerita biar tidak bertepuk sebelah tangan.

Rumus Pertemanan

Friendship

Why do we always fight?
Katanya temen. Kok berantem mulu?

Katanya temen. Kok nyalah-nyalahin?
Kuat nemenin?

Betah ngeladenin?
Ga cape dengerin ceritanya mulu?

Ga cape ujung-ujungnya ribut?
Penetrasi yang paling sulit menurut saya itu pada tahap 1 dan 2. Saat berhasil sampai ke tahap akhir, ga kebayang bagaimana dulu bisa kenal dan gimana memulainya. Ga nyangka bisa sampai sini.
Nah, saat udah kenal. Pasti ada potensi-potensi depenetrasi. Kita harus punya cara untuk mempertahankan pertemanan kita, selama itu masih memungkinkan dan selagi Allah mengizinkan.

Kalau kita ga suka sama seseorang. Itu masalah kita, bukan masalah dia. Mungkin ada yang salah sama diri kita. Mungkin kita kurang memahami dan mengerti dia. Karena kita ga pernah tau apa yang sebenarnya dia hadapi. Dan kita tidak berhak untuk menghakimi. Jangan gampang nyuruh orang lain introspeksi tapi sendirinya enggak.
Kalau dia memang ditakdirkan untuk jadi teman kita, pasti dia kembali.
Masalah kecil yang masih terhitung konflik produktif, seharusnya ga perlu dibesar-besarkan. Selesaikan, karena kalian sudah sama-sama besar.

Jangan karena hal itu kau membuat teman mu merasa bersalah. Akhirnya lempar-lemparan masalah. Satunya minta dimengerti, satunya juga. Kata ‘maaf’ cuma jadi rangkaian alfabet semata. Kalau temen kamu marah, mungkin dia lagi lelah untuk terus mengerti kamu. Ga peka-peka untuk ngerti balik. Padahal, rumus pertemanan bukan kamu+aku= kamu, tapi kamu+aku= kita.

Kalau temen kamu bicarain hal itu terus, diulang-ulang sampai terlihat menyedihkan. Mungkin mereka benar-benar butuh solusi dan perhatian. Mungkin dengan membicarakannya bisa membuat dia nyaman. Tapi, hati-hati. Jangan terus ikuti arusnya, terhanyut angan sungguh membahayakan. Kamu harus membantunya menepi sejenak untuk membangun kapal yang lebih kuat. Agar nanti dia mampu berlayar sendiri, bahkan tanpa mu. Katakan bahwa arusnya deras, tapi dirinya pasti berhasil karena dirinya kuat.

Manusia, gak luput dari kesalahan. Yang penting bagaimana kita belajar dari kesalahan itu supaya makin kuat. Adanya masalah bukan untuk memisahkan kita, tapi sebagai ujian apakah pertemanan kita cukup kuat untuk naik tingkat.

#Teman

Analogi Tukang Jahit

Analogi

Kau perlu pergi ke tukang jahit kan untuk membuat baju-baju itu nyaman kau kenakan? Kurasa begitu juga dengan diri ini. Balik lagi ke Allah perbaiki diri. Sampai Allah kembali mempertemukan, sampai sekiranya kalian sudah pantas satu sama lain. Lalu kalian akan senang kerana telah terasa nyaman.

 

Kalau memang sudah dibawa ketukang jahit tapi ternyata masih belum nyaman, agaknya baju itu bukan rezeki mu. Mungkin baju itu lebih baik kau jual atau kau berikan kepada orang lain yang lebih nyaman mengenakannya. 🙂

 

Jika tak nyaman, tak perlu kekeuh dipaksakan ^^ ada buaanyak sekali baju yang masih cocok untukmu. Dan ada buanyak di antara mereka yang lebih cocok mengenakan baju yang hampir jadi milikmu. 🙂

A.R.O.M.A

Cerpen, Portofolio

Apakah seseorang yang suka atau membenci kopi ialah orang yang sudah pasti punya cerita tentang kopi? Aku?

***

Selasa, 21 Oktober 2014

Kopi! Ya, aroma bubuk kopi mulai tercium dari pintu rumah. Hanya kopi hitam biasa. Kopi Liong, tahu? Kopi khas Bogor itu.

Hari ini rumahku kedatangan banyak tamu. Tamunya ayah. Mulai dari rekan-rekan, kerabat, saudara dan yang lain. Tentu saja mereka kesini untuk bertemu ayahku. Sebenarnya aku terlambat datang, karena aku berangkat dari kampus dan orang-orang itu lebih dulu sampai. Tapi, sepertinya akan lebih dari itu.

Semenjak ada dirimu

Relationship

“Mengapa kita tidak bersama dari dulu? Agar aku sadar betapa indahnya dunia ketika bersamamu.”

Entah apa yang membuatku memilih mu saat itu. Pastinya tidak mudah menemukan yang pas untukku. Belum lagi aku harus dapat persetujuan dari mama soal pilihanku. Kurasa, kau lah yang paling cocok saat itu. Dengan jahatnya membuat pesaing lain tersingkir dan harus mundur kembali. Ya mereka akan menemukan jodohnya masing-masing kok. Dan ‘kau’lah yang ditakdirkan untukku.

Bukan hanya yang enak dilihat, kita juga harus sangat berhati-hati dalam memilih. Bakalan nyaman ga kira2? Cocok ga? Orang tua ridho ga?  Antara satu dengan yang lain terkadang bedanya tipis. Balik lagi, kita lebih cenderung ke yang mana. Maunya sama yang mana. Sampai kepada Bismillah, aku pilih kamu.

Namun untuk memilikimu ternyata tak semudah itu.. Hahahaha walau ternyata kita ditakdirkan untuk saling memiliki, prosesnya itu loh ya ga kayak bikin mie instan.Mereka selalu bertanya, apakah aku yakin dengan apa yang aku lihat? Apa aku yakin dengan pilihanku? Sempat ku ragu. Ya, ketidaksempurnaan yang ada nanti bisa disesuaikan dan aku terima resikonya. Wong itu pilihan ku. Seenggaknya aku yakin kamu bisa melengkapi kekuranganku.

Gamau main-main kayak dulu. Sekarang serius, karena ini keputusan besar!

Dan akhirnyaaaa yeay! Sah! Kau resmi jadi milikku! huahahahahahaa legaa~ sempet deg-degan nunggunyaa. Tapi seneng banget abis itu :’

Awal kehadiranmu, sedikit membuatku pusing dan bingung. Ya mungkin aku belum terbiasa. Setelah beberapa hari berlalu aku mulai nyaman kok. Hehe.

Tapi aku baru sadar, kaca yang sebelah kiri harusnya ditambahin silinder juga. Terus kayaknya minusnya kurang sedikiit lagi. Padahal yang kanan udah perfecto. Pusing dan bingung deh jadinya. Gemes banget. Tapi seenggaknya, dunia bener-bener jadi lebih indah.. Bisa baca tulisan di papan tulis :’) Ga ngeblur~ Terus gaperlu nyipit2in mata dan ngerepotin ustadzah buat diktein wkwk.

____________________________________________

Belum dua minggu kita bersama… aku dibangunkan mama pagi itu
“Mba, kacamata kamu patah..”
Ya.. Ampun…

Ternyata kita belum ditakdirkan bersama, segera kutemukan penggantimu! hahahahah!

I Just Need a Hug

Hope

My dad is a person who always give a hug and kisses to his family member. Include me. After my dad passed away, I just realise if there is no more hug for about 2 years… I never get a hug from my mom, even on the night when my dad was died. Wow. My life just become so different, also my heart. I feel so empty, weak, and lonely.