Tetaplah Jadi Baik

Portofolio

Bismillah. Assalamu’alaykum all the readers, whazzup? Amira alhamdulillah. 

Gengs. Kalian pasti pernah dong, menemukan di sekitar kalian orang-orang baik atau minimal mendengar cerita tentang mereka (contohnya para Nabi). Tak hanya cerita mengenai baiknya mereka saja, namun juga kisah nyata mereka dan ujian yang mereka hadapi sehingga kalian bisa menyebutnya sebagai orang baik. Atau mungkin, kalian juga yang mendapat perlakuan baik dari mereka, kalianlah teman curhat mereka? Dan mungkin juga, jangan-jangan kalianlah orang baik tersebut? Maa syaa Allah aamiin, semoga Allah selalu menjaga kita dalam kebaikan dan menjaga hati kita dari kesombongan. 

Bukan apa-apalah diri kita, karena kebaikan sekecil apapun itu tetap datangnya dari Allah. 

Okay. ​Ujian orang-orang baik tak jarang kita lihat begitu berat. Kadang sampai ada dari mereka yang berpikir (ketika didzalimi) “salah ya jadi orang baik?” padahal mereka melakukan kebaikan itu begitu saja. Otomatis dilakukan, tidak dibuat-buat. Begitu tulus, bahkan polos seperti anak kecil. Mereka menolong hanya karena mereka ingin menolong, mereka memudahkan hanya karena ingin memudahkan, mereka baik pada setiap orang hanya karena mereka berprasangka baik. 

Kadang juga meski terus tersakiti dan semua orang sudah meminta dia berhenti melakukan hal baik agar tidak tersakiti, dia tetap melakukannya. Karena dia percaya bahwa setiap orang juga bisa jadi baik. “Kamu itu terlalu baik!” begitulah kita katakan. 
Sehingga kita heran ketika salah satu dari mereka mendapatkan ujian, kita bertanya-tanya. Mengapa ujian mereka begitu berat? Mengapa orang-orang di sekitarnya mendzalimi dirinya? Mengapa orang-orang itu tega melakukan hal tersebut padanya? Mengapa orang baik sering disakiti? Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Padahal semua orang juga mendapat ujian. 

Dari Mush’ab bin Sa’id -seorang tabi’in- dari ayahnya, ia berkata,

يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

“Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?” Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

« الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ »

“Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.”
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

وَاِذَا عَظُمَت المِحْنَةُ كَانَ ذَلِكَ لِلْمُؤْمِنِ الصَّالِحِ سَبَبًا لِعُلُوِّ الدَرَجَةِ وَعَظِيْمِ الاَجْرِ

“Cobaan yang semakin berat akan senantiasa menimpa seorang mukmin yang sholih untuk meninggikan derajatnya dan agar ia semakin mendapatkan ganjaran yang besar.”



Al Munawi mengatakan, “Jika seorang mukmin diberi cobaan maka itu sesuai dengan ketaatan, keikhlasan, dan keimanan dalam hatinya.

Al Munawi mengatakan pula, “Barangsiapa yang menyangka bahwa apabila seorang hamba ditimpa ujian yang berat, itu adalah suatu kehinaan; maka sungguh akalnya telah hilang dan hatinya telah buta. Betapa banyak orang sholih (ulama besar) yang mendapatkan berbagai ujian yang menyulitkan. Tidakkah kita melihat mengenai kisah disembelihnya Nabi Allah Yahya bin Zakariya, terbunuhnya tiga Khulafa’ur Rosyidin, terbunuhnya Al Husain, Ibnu Zubair dan Ibnu Jabir. Begitu juga tidakkah kita perhatikan kisah Abu Hanifah yang dipenjara sehingga mati di dalam buih, Imam Malik yang dibuat telanjang kemudian dicambuk dan tangannya ditarik sehingga lepaslah bahunya, begitu juga kisah Imam Ahmad yang disiksa hingga pingsan dan kulitnya disayat dalam keadaan hidup. … Dan masih banyak kisah lainnya.”
Semakin kuat iman, semakin berat cobaan, namun semakin Allah cinta. 

Bahkan tak jarang setelah waktu berjalan, kita melihat orang-orang baik itu semakin gemilang. Meski ada juga yang masih berkutat dengam kesabaran.

Iya, sabar. 

Ganjaran bersabar sangat luar biasa. Ingatlah janji Allah,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga).” (QS. Az Zumar: 10).

Allah selalu menguji orang baik dengan ujian yang hebat-hebat. Yang membuat mereka semakin kuat dan semakin hebat. Yang nanti Allah akan kasih janji kebahagiaan atau balasannya kelak.

Begitulah.

Maka tetaplah jadi orang baik, atau setidaknya terus jadi lebih baik. Berusahalah jadi orang baik. Contoh mereka yang kau lihat ada kebaikan padanya.

Selalu bersabar, karena Allah punya ganjaran. 

Dan, tolong dipastikan, yang harus benar-benar dicamkan. Jangan sampai kita malah menjadi salah satu yang mendzalimi orang-orang baik tersebut. لا. 

Selalu doakan, yang mendzalimi diberikan hidayah serta kelembutan hati. Karena Allah yang bolak-balikkan hati. Jika kita pernah, segeralah bertaubat. Segera berubah jadi hamba yang taat. 

Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari hal-hal yamg tidak diridhai-Nya. Aamiin. 

🙂 

-Dhana Salsabila

Referensi: https://rumaysho.com/678-seseorang-akan-mendapat-ujian-sebanding-kualitas-imannya.html

Di Bawah Payung Langit

Portofolio

“Terkadang aku menangis karena takut akan matinya hati. Takut karena banyak tertawa. Takut tiba-tiba tidak bisa menangis lagi.

Aku menangis untuk kembali menghangatkan hati. 

Payahnya aku masih saja banyak tertawa padahal tahu setelah itu akan menangis meski tidak tahu akan menangisi apa. 

Nyatanya, ada saja penyebabnya. Dan memang harus menangis, agar tidak mati. 

Hai tawa, jangan sampai lebihmu membuatku menyesalimu. Maka dari itu, sampai saja pada batas cukup. 

Jika ada lebihnya, ku tahu kau membawa yang lain menyusul di belakangmu. Iya, tangis-tangis itu. 

Tapi terimakasih, jika aku masih bisa menangis. 

Aku hanya takut hatiku mati kemudian tangis terhenti.” – Clara, di bawah payung langit. 

Dia tutup buku itu, kemudian membalikkan tubuh terlentang di bawah bintang-bintang. Dengan bukunya dalam dekapan. Menarik napas panjang, dan mengeluarkannya penuh tekanan bersama beban. 

Malam yang dingin, Clara terbaring di atas genting. 

“langit yang selalu indah,” gumamnya. 

Airmatanya tumpah perlahan, meski malam itu dingin. Dia sedang berusaha menghangatkan hatinya. 

“ya Allah, maafkan aku.”  

Di bawah payung langit, dia bermuhasabah. 

Di bawah payung langit, salah satu tempat mewah. 

Setelah di atas sajadah. 

Mereka Ada Bersama Kita

Mental Illness, Portofolio, Thought

Tulisan ini akan menjadi sangat panjang. Jadi siapkan mental. Jangan malas duluan. In syaa Allaah this is worth to read.

#1

Daun-daun terus berguguran, semakin menumpuk menutupi halaman. Sesekali tetangga-tetangga bantu menyapunya.

Debu-debu juga tak mau kalah, menyelimuti etalase toko depan rumahnya. Jarang sekali pembeli datang jika bukan tanpa keterpaksaan. Uang kembalian bisa sangat lebih atau sangat kurang.

Jangan tanya kondisi di dalam rumah. Hanya dia di sana hidup seorang, meski keluarganya sangat berkecukupan, lebih bahkan. Namun rumahnya selalu sepi, terus sepi.

Tanpa tawa, dia hanya terduduk dengan tatapan hampa.

A Little Letter to My Little Sister

Bilingual, Friendship, Portfolio, Portofolio

UNFINISHED

            I was on the third semester in campus. That means a new college year which was my campus (also my department) got so many freshman. In the middle of the first semester, every department are conducting an activity that we called “Ta’aruf”. It’s a mandatory event for the freshman to know each other from their department better, and my generation was became the committee. This event was held for three days and two nights.

Be Strong! Tegas sama diri sendiri!

Portofolio

“Jelas aku berpikir tentang bagaimana menjauhkan diri darimu. Bukan secara fisik tapi secara mental. Walaupun selama ini hari-hari yang terjadi terus membuatku bertanya tanya sendiri tentang apa bahasan terakhir kita di ruang maya itu. Setidaknya mencoba untuk terbiasa untuk menjalani hari yang tersisa dengan sebagaimana mestinya. Tanpa tangis atas kerapuhan, tanpa gelisah atas sebuah keterjatuhan.

(Penduduk) Bumi dan Rem

Analogi, Message, Portofolio, Thought

Bumi, bukan tempat yang cocok untuk kamu tinggali, kalo kamu disenggol dikit aja, baper.
Bumi, bukan tempat yang cocok untuk kamu tinggali, kalo kamu mau menang sendiri.
Bumi, bukan tempat yang cocok untuk kamu tinggali, kalo kamu gamau dikritik sana sini.

Esther & Grey

Conversation, Thought

Incoming Call

Esther: “Hallo, Esther di sini. Dengan siapa aku berbicara?”

Grey: “Hai, ini Grey…”

Esther: “Ugh. Ada apa kau menelpon?”

Grey: “Soal kau memblokir aku-,”

Communication Problem

Portofolio, Relationship, Thought

Pada tulisan ini, saya akan membahas mengenai hal yang sering menganggu pikiran saya karena kurangnya keberanian saya dalam berkata langsung pada orang-orang yang bersangkutan. Untuk yang pernah saya utarakan mengenai ini namun masih samar, dan bagi kamu siapa saja yang membaca tulisan ini. Di sini saya akan menjelaskan hal tersebut dengan lebih detail.

Saya yakin banyak dari kita yang melakukan ini tanpa sadar, atau khilaf. Juga jarangnya orang terdekat yang mau mengingatkan, dan hingga sekarang ternyata kita masih seperti itu. Bagi kamu yang sudah tidak seperti itu, saya salut dan akan lebih salut apabila kalian membantu kawan lain dengan mengingatkan mereka, semampu kalian, untuk kebaikan semua.

Nah. Coba diingat-ingat, kapan terakhir kali kita mendengarkan dengan baik cerita dari teman kita? Kapan terakhir kali kita merespons cerita mereka dengan pantas? Apakah dalam detik berikutnya kita masih ingat apa yang kawan kita ceritakan? Atau malah jangan-jangan selama ini kita tidak sadar mereka baru saja berbicara? Atau ternyata kita tidak mendengarkan dan hanya mau didengar?

Pesan pertama untuk kita semua. Jadilah orang yang mau didengar dan mau mendengarkan. Jangan jadi orang yang maunya orang lain dengar apa yang kita bicarakan, namun, giliran orang lain berbicara hanya jasad kita saja yang ada, sedangkan mata dan pikiran kita malah berwisata. Dipanggil jawab ‘hah’  ditunggu jawabannya ternyata kitanya tidak ada. Kasian, lebih baik tidak usah bercerita biar tidak bertepuk sebelah tangan.