A Little Letter to My Little Sister

Bilingual, Friendship, Portfolio, Portofolio

UNFINISHED

            I was on the third semester in campus. That means a new college year which was my campus (also my department) got so many freshman. In the middle of the first semester, every department are conducting an activity that we called “Ta’aruf”. It’s a mandatory event for the freshman to know each other from their department better, and my generation was became the committee. This event was held for three days and two nights.

Tahajjud

Portofolio

“Sayang, sayangkuu… Tahajjud dulu yukkk!”

Aku dibangunkan pada sepertiga malam, namun ini masih terlalu jauh dari waktu Shubuh.

“Hah, masih jam segini TT..” Pikirku saat terbangun.

***

03:50

“Kak, telponmu bunyi…” panggil mom dari kamarnya yang terbangun karena dering teleponku.

“Sudah bangun kan, Mir?” dia mengirimkan SMS karena panggilannya aku reject.

“Naaah, jam segini dong. Udah kak,” eh yah.. Aku gapunya pulsa…

***

Di hari lain setelahnya, mom yang berada di kamarnya mengecek ponselku kemudian bertanya padaku yang berada di kamar belakang,

“Kak, Itu siapa sih yang suka bangunin tahajjud?”

“Temen aku,”

“Yang suka nelpon-nelpon, SMS.”

“Iya. Temen akuuu,”

“Siapa namanya?”

“Ka Atul,”

“Siapa?

“Kak Atul, Rifaatul M****blabla”

“Cewek?”

“Yaiyalah, hellow -_-”

Yaaa! We are doing tahajjud call! To wake our member for shalat tahajjud in last one third of the night. Ka Atul is one of the member who doing the task in several times.

What kind of group that does that?

Let me introduce to you,

Cont.

Be Strong! Tegas sama diri sendiri!

Portofolio

“Jelas aku berpikir tentang bagaimana menjauhkan diri darimu. Bukan secara fisik tapi secara mental. Walaupun selama ini hari-hari yang terjadi terus membuatku bertanya tanya sendiri tentang apa bahasan terakhir kita di ruang maya itu. Setidaknya mencoba untuk terbiasa untuk menjalani hari yang tersisa dengan sebagaimana mestinya. Tanpa tangis atas kerapuhan, tanpa gelisah atas sebuah keterjatuhan.
Karena faktanya, hidup bukan melulu tentang melupakan sebuah luka. Kesulitan jelas ada, tapi semakin kuat ditempa semakin mudah diterima. Kembali menikmati sisa dari kehidupanku yang telah lelah tertatih karena terlalu mengharapkan seseorang yang memilih pergi. Karena telah lelah meraba jalan-jalan hidup yang tertinggalkan. Tak perlu segan untuk menyapa. Karena aku sudah berdamai dengan masa lalu dan siap untuk melupa. Entah sapaanmu akan kubalas seperti apa, jangan segan menyapa. Jangan segan menyapa.
Mari kita berbahagia. Dengan sisa hidup kita masing-masing, dengan kekuatan masing-masing. Dengan takdir masing masing. Jelas kita harus pandai merangkai kata, untuk menjelaskan pada diri sendiri tentang sebuah keikhlasan. Bukan karena kita tidak bertakdir, tapi justru karena ini takdir milik kita. Mari kita berbahagia. Aku merelakannya dengan tawa. Dan kamu boleh mengikhlaskannya dengan lupa.”

–Khansa Salsabila Hera Maharani


Tulisan indah dari seorang kawan 🙂 tentang melupakan, melepas, ikhlas. Banyak dari kita yang berusaha untuk itu pada waktunya masing-masing. Bahkan saya pernah mendapat pertanyaan “Gimana kamu ngelupainnya, Mir?”

At least…

Hanya masalah waktu.

Dalam masalah luluh-luluhan ketika kita berniat untuk tidak terjerumus lagi dalam maksiat namun ternyata orang itu kembali lagi dan membuat kita melanggar prinsip sendiri atau niat tadi. Kembali lagi pada ketegasan diri kita yang diikat sama iman. Ada pertaruhan muru’ah sama izzah, yang ga sadar dilepas gitu aja karena setan pinterrrrr banget. Halus~

Ga perlu tanya gimana cara melupakan seseorang. Pertanyaan yang salah. Karena kita punya iman bro, punya Allah, punya Al-Qur’an. Kalo itu semua ga cukup buat ngelupain satu orang…

Naikin iman, deketin Allah, baca Al-Quran. Tegas sama diri sendiri!

Dan satu lagi, TUNTUT ILMU! ‘Cause salah satu penyebab kejahilan adalah kurangnya ilmu.

Masalah ngelupain itu sebenernya persoalan yang perlu diperhatikan sejak awal kenal. Biasakan menaruh apa-apa secukupnya. Entah perasaan, perhatian, ikatan. Biasa aja. Jadi kalau ada apa-apa ga kenapa-napa banget. Bahagia secukupnya, sedih secukupnya juga.

Life must go on.

Peran kita ya kita yang mainin. Pemeran utama gaperlu sibuk-sibuk mikirin pemeran lain yang BELUM JELAS KONTRAKNYA APAKAH SATU FILM SAMA KITA ATAU ENGGAK. Kalaupun ternyata satu film, paling dia cuma jadi figuran aja. Atau antagonis… Atau mungkin pemanis…
Jangan siasiain talent kita buat acting sama orang sampai orang itu sah kontraknya untuk jadi lawan main kita.

Means, jangan buang2 tenaga kita buat mikirin seseorang yang dia belum jadi siapa2 kita atau tidak jelas akan jadi siapa kita.

Fokus pada tujuan, jadi pemeran TERBAIK! Kalau memang film kita yang ini (ketika single) sudah selesai dan kita dapet award pemain terbaik nihhh. Nantiii di FILM lain, film baru. Kita bakal dipertemukan dengan AKTOR terbaik dari filmnya sendiri.
JADI DEHH FILM BERSAMA YANG ISINYA AKTOR AKTRIS YANG SUDAH TERBAIKKK.
Bayangkan ketika kalian dipertemukan ketika sudah sama-sama pantas? Kalau gitu kan kontraknya jelas, sama2 sudah jadi baik. Kalau jodoh ketemu kok. Fokus aja memperbaiki diri.

Gitu kawan-kawan ku.
Note to my self. Semangat ya 🙂 Be Strong!

Communication Problem

Portofolio, Relationship, Thought

Pada tulisan ini, saya akan membahas mengenai hal yang sering menganggu pikiran saya karena kurangnya keberanian saya dalam berkata langsung pada orang-orang yang bersangkutan. Untuk yang pernah saya utarakan mengenai ini namun masih samar, dan bagi kamu siapa saja yang membaca tulisan ini. Di sini saya akan menjelaskan hal tersebut dengan lebih detail.

Saya yakin banyak dari kita yang melakukan ini tanpa sadar, atau khilaf. Juga jarangnya orang terdekat yang mau mengingatkan, dan hingga sekarang ternyata kita masih seperti itu. Bagi kamu yang sudah tidak seperti itu, saya salut dan akan lebih salut apabila kalian membantu kawan lain dengan mengingatkan mereka, semampu kalian, untuk kebaikan semua.

Nah. Coba diingat-ingat, kapan terakhir kali kita mendengarkan dengan baik cerita dari teman kita? Kapan terakhir kali kita merespons cerita mereka dengan pantas? Apakah dalam detik berikutnya kita masih ingat apa yang kawan kita ceritakan? Atau malah jangan-jangan selama ini kita tidak sadar mereka baru saja berbicara? Atau ternyata kita tidak mendengarkan dan hanya mau didengar?

Pesan pertama untuk kita semua. Jadilah orang yang mau didengar dan mau mendengarkan. Jangan jadi orang yang maunya orang lain dengar apa yang kita bicarakan, namun, giliran orang lain berbicara hanya jasad kita saja yang ada, sedangkan mata dan pikiran kita malah berwisata. Dipanggil jawab ‘hah’  ditunggu jawabannya ternyata kitanya tidak ada. Kasian, lebih baik tidak usah bercerita biar tidak bertepuk sebelah tangan.